Karya Tulis Ilmiah : Implikasi Reformasi Gereja dengan Perkembangan Gereja di Indonesia bagian Sumatera Utara
Kevin Exaudi Siregar
10911
XI IPS 3
Implikasi Reformasi Gereja
dengan Perkembangan Gereja di Indonesia bagian
Sumatera Utara
Reformasi Gereja menjadi tolak
ukur para Teolog Kristen untuk menilik kemajuan perkembangan agama Kristen di
dunia termasuk diantaranya negara Indonesia. Hal ini tidak lepas dari peran
cendekiawan dan pendeta yang mempunyai pemikiran kritis yakni Desiderius
Erasmus dan DR. Martin Luther dengan 95 dalilnya pada 1517. Dengan 95 dalilnya
tersebut, masyarakat eropa bahkan dunia mempunyai pemikiran yang rasional
terhadap fungsi gereja, termasuk diantaranya Provinsi Sumatera Utara.
Perkembangan gereja di Sumatera Utara tidak bisa dilepaskan dari sosok Richard
Burton dan Nathaniel Ward seorang missionaris utusan BMS dari Inggris,
yang memulai penginjilannya didaerah Silindung, Tapanuli Utara. Dari proses
penginjilannya itu, mengaktualkan Provinsi Sumatera Utara sebagai akar dari
perkembangan gereja di Indonesia. Disini penulis akan menjelaskan Implikasi
Reformasi Gereja dengan berakarnya perkembangan gereja Indonesia di Provinsi
Sumatera Utara hingga bagaimana peran Missionaris mengubah pola pikir
masyarakat penganut kepercayaan lain menjadi pemeluk agama Kristen di Provinsi
Sumatera Utara.
Keyword : Reformasi Gereja,
Desiderius Erasmus, Martin Luther, Missionaris BMS
1. Permulaan Reformasi Gereja : Era Desiderius Erasmus
Roterodamus
Permulaan
Reformasi Gereja dimulai dari kemunculan seorang tokoh yang merupakan seorang
cendekiawan, ahli teologia, dan merupakan salah satu sarjana paling cerdas di
era-renaissance, tokoh tersebut bernama Desiderius Erasmus. Nama tersebut
memang tidak sepopuler Martin Luther, tetapi peranan Desiderius Erasmus dalam
mereformasi gereja menjadi titik ukur perkembangan Reformasi Gereja. Desiderius
Erasmus merupakan seorang humanis yang terkemuka dan merupakan perintis
reformasi gereja. Kisah kelahiran Desiderius Erasmus tidak pernah
terdokumentasi dengan baik. Para sejarawan menyebutnya Ia lahir di Rotterdam,
tetapi ada pula yang menyebut Ia lahir di Kota Gouda. Tanggal kelahirannya juga
rancu, banyak yang mencatat 27 Oktober 1466 sebagai hari kelahirannya, ada juga
sejarawan yang menyebut 26 atau 28 Oktober 1466 sebagai hari kelahirannya.
____________________________
2 Christianity Today, https://www.christianitytoday.com/history/people/scholarsandscientists/erasmus.html
Satu
hal yang pasti, para ahli bersepakat mengenai tanggal kematian cendekiawan
Renaisans yang pernah terlibat perselisihan dengan Martin Luther ini. Mereka
menyebut Desiderius Erasmus meninggal akibat penyakit disentri yang
menyerangnya saat berkunjung ke Basel, Swiss, pada 12 Juli 1536.
Desiderius
Erasmus lahir di lingkungan keagamaan,
hal itu tidak membuat Erasmus menutup mata terhadap kejanggalan doktrin gereja
warisan abad pertengahan. Sebaliknya, Desiderius Erasmus lebih suka melakukan
petualangan intelektual seraya menentang monopoli pengetahuan yang dilakukan
Gereja Katolik. Perjalanan hidup Desiderius Erasmus bisa dikatakan sangat
terjal, nasibnya ketika masih kanak-kanak tidaklah mujur. Desiderius Erasmus lahir sebagai anak haram dari seorang
pendeta sehingga keikutsertaannya dalam kehidupan biara seolah-olah sudah
diatur. Setelah kedua orang tuanya meninggal akibat wabah penyakit pada 1483,
Desiderius Erasmus dan kakak laki-lakinya dikirim ke sebuah sekolah biara yang
sangat konservatif dan terkenal keras. Bukannya menjadi alim, Desiderius
Erasmus malah tumbuh menjadi seorang pembangkang.
Kendati
menikmati momen pendekatan diri kepada Tuhan, Desiderius Erasmus menolak aturan
keras dan metode ketat para guru agama waktu itu. Di saat bersamaan, dia juga
mulai mendambakan praktik kekristenan di luar jalur tradisional, tanpa memiliki
pilihan kedua, Desiderius Erasmus mengambil sumpah di biara St. Augustine pada
1488. Empat tahun kemudian, dia naik menjadi pendeta di tempat yang sama. Saat
menjadi pendeta, Desiderius Erasmus kembali membuat ulah, Ia jarang terlibat
dalam kegiatan keagamaan dan lebih suka mencuri-curi kesempatan untuk menulis
puisi, belajar filsafat, dan membaca buku -buku klasik berbahasa latin. Hal ini
diperkuat dengan sebuah tulisan dari Lucien Febvre dalam bukunya berjudul The
Problem of Unbelief in the Sixteenth Century: The Religion of Rabelais,
dikatakan demikian,
“Sedikit demi sedikit mulai tumbuh dalam diri
Erasmus harapan untuk menggapai kebebasan, serta perasaan protes terhadap
kemiskinan ilmu pengetahuan dan keburukan tingkah laku senior-seniornya di
biara yang disebutnya sebagai orang barbar."
Berdasarkan
catatan Richard L. DeMolen, keleluasaan norma yang berlaku di St. Agustine
memberikan sedikit ruang kepada Desiderius Erasmus. Ini memungkinkannya untuk
melaksanakan tugas-tugas sekuler, ketimbang kegiatan misionaris yang
dibencinya. Selama kurang lebih lima tahun, Desiderius Erasmus lebih suka
mengajar di sekolah -sekolah dan terlibat dalam institusi-institusi
non-keagamaan lainnya. Kehidupan Desiderius Erasmus baru benar-benar berubah
tatkala berjumpa dengan uskup dari Cambray bernama Henry de Bergen.
___________________________
4 Houston Chronicle, https://www.houstonchronicle.com/news/article/Before-Martin-Luther-there-was-Erasmus-a-14570803.php
5 Christianity article, https://christianity.stackexchange.com/questions/39893/what-reforms-did-erasmus-seek-for-the-church
Sang
uskup terkesan dengan kemampuan bahasa Latin Desiderius Erasmus dan menawarinya
pekerjaan sebagai sekretaris pada 1493. Selang dua tahun, Henry de Bergen
memberikannya beasiswa untuk belajar teologi di Universitas Paris. Namun,
ketimbang menimba ilmu demi kepentingan biara, Desiderius Erasmus memilih
menggunakan kesempatan itu untuk “kabur” dari kehidupan biara yang selama ini
dianggapnya menyesakkan.
Nantinya,
pada 1495 Kota Paris menjadi tempat Desiderius Erasmus melanjutkan studinya dan
juga mengajar di Universitas Paris, khususnya di Collége de Montaigu. Perguruan
tinggi tersebut dikenal sebagai pusat semangat reformasi. Dalam menjalani
studinya ini, wawasan Desiderius Erasmus menjadi lebih luas, tidak butuh waktu
lama sampai dirinya benar-benar dikelilingi para cendekiawan yang berpikiran
terbuka, sebagaimana yang selama ini diidam-idamkannya. Terlepas dari
kesenangannya menulis puisi, Desiderius Erasmus saat itu memang tidak perlu
lagi sembunyi - sembunyi saat hendak menulis puisi dan mempublikasikan tulisan -
tulisan akademis. Namun ternyata hal itu belum bisa memuaskan hati Desiderius
Erasmus. Ia ingin sekali memiliki kehidupan bebas dengan bertukar ilmu
pengetahuan dengan sesama pemikir di seluruh daratan Eropa.
Encyclopedia
Britannica menyebut Desiderius Erasmus sebagai sarjana yang suka mengembara.
Dengan bantuan murid - muridnya di Paris, pada 1499, Erasmus berhasil
mendapatkan uang pensiun untuk membiayai perjalanannya ke Inggris. Maka
dimulailah kehidupan baru Erasmus sebagai sarjana independen. Di Inggris,
Desiderius Erasmus menemukan minat baru atas bantuan tokoh - tokoh humanisme
terkenal seperti John Colet dan Thomas More. Di sana pulalah Desiderius Erasmus
mulai tertarik kepada studi keagamaan sekaligus menjadi penganut humanisme yang
setia. Di sela waktu, dia giat memperdalam kemampuan bahasa Yunani kuno yang
kemudian dipergunakannya untuk menerjemahkan naskah kitab Perjanjian Baru.
Berkat kemampuannya berbahasa Latin dan Yunani, Desiderius Erasmus bisa
membandingkan banyak terjemahan Alkitab berbahasa Latin dengan naskah - naskah
Perjanjian Baru yang berasal dari Yunani, atas bantuan John Colet, Desiderius
Erasmus kemudian mendedikasikan diri menjadi editor pertama naskah Perjanjian
Baru dan beberapa kesusastraan klasik lainnya selama periode Renaisans. Selain
Inggris, Desiderius Erasmus juga pernah bertandang ke Jerman, Belgia, Italia,
dan Swiss. Dalam kurun kurang lebih 10 tahun, aktivitas akademisnya terbagi - bagi
di tiga negara yaitu Belanda, Perancis, dan Inggris.
Keinginan
Desiderius Erasmus untuk mengubah sistem gereja Katolik dilandasi rasa
prihatinnya melihat praktik penjualan surat pengampunan dosa. Menurutnya,
gereja hanya memanfaatkan kemiskinan wawasan yang terstruktur di kalangan umat.
Desiderius Erasmus berpendapat gereja tidak seharusnya memonopoli isi Alkitab
dan segala bentuk kesusastraan klasik. Ia kemudian mengusulkan agar gereja
Katolik melakukan perubahan mendasar dengan mulai menerjemahkan Kitab Suci ke
dalam bahasa rakyat.
____________________________
8 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah
Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), Hlm.130
Kutipan
tulisannya dalam bagian pengantar Perjanjian Baru, Ia mengatakan,
“Saya
dengan keras menentang mereka yang melarang orang biasa membaca Kitab Suci atau
yang melarang menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari."
Usulan
Desiderius Erasmus tersebut malah menuai kecurigaan kalangan gereja Katolik.
Mereka dengan giat mulai menghujaninya dengan berbagai macam hinaan dan
memberikan label sebagai seorang pengecut dan pelaku bidah. Di sebagian wilayah
Eropa, buku-bukunya dibakar dan sempat masuk ke dalam daftar bacaan terlarang.
Desiderius
Erasmus tidak berpangku tangan, ia justru semakin sengit melawan. Melalui
tulisan tahun 1494/1495 yang bertajuk Antibarbari, Desiderius Erasmus
mengemukakan kekuatan edukasi untuk memperbaiki sifat manusia dan karakteristik
mereka yang disebutnya masih memiliki sifat barbar. Dalam buku The Company of
the Preachers karya David L. Larsen, disebutkan bahwa tulisan Desiderius
Erasmus itu punya peran besar membentuk pemikiran Martin Luther. Tokoh
Reformasi Gereja Protestan itu disebutkan banyak membaca karya Desiderius
Erasmus, sebelum akhirnya menerbitkan karya terpentingnya yang berjudul
"Ninety-five Theses" pada 1517. Meskipun begitu, Luther dan para
pengikutknya memilih mencampakan Erasmus. Mereka menghakimi Desiderius Erasmus
akibat keteguhannya menolak unsur radikalisme yang diusung para pemimpin
kelompok Reformasi dalam menuntut perubahan, berdasarkan tulisan Rebecca
Newberger Goldstein dalam New York Times, pemikiran Desiderius Erasmus memang
memiliki banyak kesamaan dengan Martin Luther. Mereka sama-sama menolak segala
bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan pihak gereja serta segala
takhayul aneh yang didukungnya. Namun sayang, keduanya tidak akur. Sejarawan
Gereja Protestan Philip Schaff mencatat bahwa akibat serangkaian pertentangan
tersebut Desiderius Erasmus tidak diakui baik di Katolik maupun Protestan.
Bahkan, ia sempat diberi label ateis dan dianggap musuh semua agama oleh
penganut Lutheranisme. Catatan Philip Schaff yang dihimpun Dave Armstrong ke
dalam Protestantism: Critical Reflections of an Ecumenical Catholic (2013)
tersebut juga menyebut pada akhirnya Martin Luther menarik segala kecamannya
dan mengakui hasil kerja Desiderius Erasmus melalui sepucuk surat pada 1524,
isi surat tersebut, yakni “Seluruh dunia harus memberikan kesaksian tentang
keberhasilan Anda menumbuhkan pemahaman yang benar tentang Alkitab dan karunia
Tuhan ini telah ditampilkan dengan indah dan luar biasa di dalam dirimu,
memanggil rasa terima kasih kami,” tulis Martin Luther kepada Desiderius
Erasmus. Oleh karena itu, peranan Desiderius Erasmus justru menjadi sentral
dalam perkembangan reformasi gereja, karena permulaan pemikiran untuk
mengkritik gereja yang sudah menyimpang dari pusat ajarannya yaitu Alkitab
dimulai dari dalam dirinya.
___________________________
9 David L. Larsen, The Company of the
Preachers: A History of Biblical Preaching from the Old Testament to the Modern
Era (AS: Kregel Academic & Professional, 1998) Hlm. 125
10 The New York Times, Erasmus vs. Luther — a Rift That Defined
the Course of Western Civilization, https://www.nytimes.com/2018/03/29/books/review/fatal-discord-michael-massing.html
11 Oxford Bibliographies, Renaissance and Reformation, https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780195399301/obo-9780195399301-0027.xml
12 Desiderius Erasmus: Theological,
Political & Economic Ideas Video, https://study.com/academy/lesson/desiderius-erasmus-theological-political-economic-ideas.html
2. Puncak Reformasi Gereja : Era Martin Luther yang
Memicu Gereja Katolik Memperbaharui Sistem Internalnya
Perlahan
- lahan peradaban Eropa Abad Pertengahan mulai mengalami krisis. Pada 1347 -1351,
wabah pes merenggut sekitar 75 juta populasi. Kota - kota Eropa dilanda
kepanikan. Sementara itu, aliansi politik tradisional antara Paus sebagai
pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan pangeran - pangeran Eropa mulai
retak. Ambruknya peradaban abad pertengahan dan kebangkitan era Renaisans yang
bermula dari Italia turut melahirkan para pemikir Kristen yang mulai menentang
otoritas tinggi Gereja Katolik. Lima ratus dua tahun lalu pada 31 Oktober 1517,
seorang biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah
gereja di Wittenberg, kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu
gereja, ia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja
Katolik. Peristiwa itu dicatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan
Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme.
Berbekal pendidikan magister hukum dari Universitas Erfurt, Martin Luther
memutuskan jadi biarawan ketika usianya masih 21 tahun. Perilakunya sangat
asketik. Ia rajin berdoa, puasa, bertapa, menahan hawa dingin tanpa selimut,
dan melakukan ritual biarawan lainnya.
Praktik
indulgensi muncul pada abad ke-11 dan 12 saat Perang Salib masih berkobar.
Gereja menjelaskannya sebagai "proses penghapusan siksa-siksa temporal di
depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah
tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471. Seiring perjalanan
waktu, para pemimpin Gereja memutuskan bahwa membayar sejumlah uang untuk
proses indulgensi bisa dilakukan setiap orang, tidak hanya mereka yang terjun
ke Perang Salib. Selama beberapa abad berikutnya, penjualan indulgensi menyebar
luas dan mencakup pengampunan dosa atas orang - orang yang sudah meninggal. Hal
ini terutama diserukan dalam khotbah - khotbah biarawan Ordo Dominikan, John
Tetzel. Praktik jual beli indulgensi pun jadi jamak. Di bawah kepemimpinan Paus
Leo X, Gereja meraup pemasukan besar dari umat yang kemudian dialokasikan untuk
membangun kembali Basilika Santo Petrus di Roma. Martin Luther memandang
praktik tersebut sebagai perilaku korup, dari sanalah 95 dalil Martin Luther
bermula.
Dalam
sebuah debat publik di Leipzig pada 1519, Martin Luther menyatakan bahwa “orang
awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan
kardinalnya.” Akibatnya, Martin Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi tak
boleh ikut sakramen.
Pada
1520, Martin Luther menjawab ancaman tersebut dengan menerbitkan tiga risalah
terpentingnya, yaitu "Seruan kepada Bangsawan Kristen" yang
berpendapat bahwa semua orang Kristen adalah imam dan mendesak para penguasa
untuk mengambil jalan reformasi gereja. Kedua, "Tawanan Babilonia
Gereja", yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa
pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, "Tentang Kebebasan Seorang
Kristen" yang mengatakan kepada orang-orang Kristen bahwa mereka sudah
terbebas
____________________________
dari
hukum Taurat yang kini telah digantikan ikatan cinta pada hukum tersebut. Dewan
Gereja pun terus memanggil Martin Luther, yang segera terlibat perdebatan
sengit dengan para pemuka Gereja Katolik hingga dicap bidah dan sesat. Martin
Luther sempat melarikan diri ke Kastil Wartburg dan bersembunyi selama sepuluh
bulan.
Gerakan
Reformasi Martin Luther menuntut menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke
bahasa Jerman. Dampaknya luas, karena orang tidak lagi perlu bergantung pada
seorang imam untuk membaca dan menafsirkan Alkitab. Alhasil, legitimasi para
padri Katolik pun terancam tergerus. Selain itu, Martin Luther mengkampanyekan
pendidikan universal untuk anak perempuan dan laki - laki di zaman ketika
pendidikan hanya bisa diakses oleh orang kaya.
Ia
juga banyak menulis nyanyian rohani, traktat, berkhotbah tentang pandangan
reformasi dan melakukan serangkaian perjalanan hingga kematiannya pada 1546.
Namun, gerakan reformasi yang melahirkan pecahan Kristen Protestan ternyata
harus dibayar mahal. Serangkaian perang antara kubu Katolik Roma dan Reformis
Protestan meletus pada 1524 - 1648. Puncak dari konflik berdarah tersebut
adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618 - 1648 yang menewaskan
sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai
Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya diakui diantaranya adalah Katolik Roma,
Lutheran, dan Calvinis. Warisan intelektual dan politik Martin Luther
mengilhami para tokoh pembaharu Protestan di zamannya seperti Calvin, Zwingli,
Knox, dan Cranmer. Pemikiran para pembaharu ini pun pada gilirannya melahirkan
berbagai jenis denominasi Protestan, misalnya Gereja Lutheran, Reformed,
Anglikan, Anabaptis, dan banyak lagi lainnya yang terus berkembang sampai
sekarang.
Munculnya
reformasi Gereja menantang para pemimpin Gereja untuk mempertahankan kesatuan
Gereja sekaligus membangkitkan kesadaran perlunya Gereja merumuskan doktrin
ajarannya yang lebih definitif dan jelas untuk menangkis serangan dari kaum
reformis. Selain itu, Gereja merasa perlu mengadakan pembaruan internal dan
menyeluruh. Dalam konteks inilah konsili Trente diadakan. Keputusan-keputusan
Konsili mampu memberi arah dan dasar baru bagi perkembangan Gereja untuk
mengarungi jaman. Meski demikian, proses yang positif itu lambat laun mengalami
distorsi tujuan menjadi sebuah gerakan Tridentinisme, yang di satu sisi
membantu gerak Gereja tetapi di sisi lain menjadikan Gereja lebih bercorak
intitusional dan sedikit mengabaikan perannya sebagai sebuah lembaga spiritual.
Selama ini, ada asumsi umum yang menyatakan bahwa Konsili Trente muncul sebagai
sebuah reaksi munculnya gerakan reformasi Gereja yang menantang sekaligus
mempertanyakan doktrin-doktrin Gereja (Katolik). Faktanya, Konsili Trente
bukanlah sekedar sebuah reaksi sekaligus jawaban gerakan reformasi yang dipicu
protes oleh Martin Luther. Konsili ini sebenarnya sebuah gerakan pembaharuan
Gereja yang embrionya sudah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Proses panjang
ini mendapat momentumnya ketika Protestanisme mulai serius mengancam kesatuan
Gereja (Eropa). Desakan - desakan pembaharuan itu diawali dengan adanya
gelombang usaha reformasi dalam biara - biara ordo religius khususnya di
kawasan Italia dan Spanyol.
___________________________
Misalnya,
Antonio Pierozzi, seorang Dominikan muda di Florence membangun kembali cara
hidup Dominikan yang lebih ketat (strict of observance) dengan mendirikan biara
San Marco tahun 1436 yang kemudian menjadi pusat usaha-usaha pembaharuan di
Italia. Ketika ditunjuk menjadi Uskup Agung Florence tahun 1444, Pierozzi juga
mengadakan pembaharuan di keuskupannya terkait dengan residensi, reksa
pastoral, dan pelayanan terhadap kaum miskin. Pembaharuan monastik yang
signifikan dan penting itu rupanya dipengaruhi dengan lahirnya dan berkembang
sekolah - sekolah spiritual. Sekolah spiritual yang paling terkenal adalah
Devotio Moderna, sebuah gerakan spiritual orang - orang Flandrika dan Belanda
yang menekankan disiplin doa kontemplatif. Devotio Moderna sangat mempengaruhi
cara hidup kesalehan negara - negara Katolik bagian Selatan khususnya Italia
dan Spanyol. Selain itu, juga muncul gerakan - gerakan pembaharuan tradisi
monastik yang lebih tua seperti tradisi Fransiskan dan Kartusian yang
menekankan tradisi meditasi dan mistisisme. Sekolah-sekolah spiritual ini bahu
membahu membangun sebuah daya yang menjadi dasar spiritual reformasi dalam
Konsili Trente. Puncaknya, muncul gerakan spiritual yang baru, yaitu Latihan
Rohani (Spiritual Exercise) Ignatius Loyola yang lebih menekankan pertobatan
dan hidup kerasulan aktif dari pada tradisi mistis - kontemplatif.
Selain
pembaruan monastik, muncul juga gerakan untuk mereformasi institusi dan
struktur kelembagaan dan kepemimpinan dalam Gereja. Selama ini praktek
nepotisme menghasilkan para imam, uskup dan kardinal yang tidak layak. Selain
itu, masalah residensi para uskup. Selama ini para uskup beserta imam - imamnya
melalaikan tanggung jawab pastoral di keuskupannya demi uang. Beberapa tokoh
yang terkenal gigih mereformasi institusi keuskupan antara lain : Uskup
Rocheser John Fisher di Inggris (1535) yang memberi contoh para imamnya untuk
melaksanakan komitmen pastoral di keuskupannya dengan melaksanakan cara hidup
miskin, sederhana yang ketat dan penyangkalan diri di Spanyol, Kardinal Francisco
Ximenes de Cisneros, seorang Fransiskan yang ketat dan Uskup Agung Toledo
mendorong para imamnya untuk memperbaiki pelayanannnya dengan studi kitab suci
dan teologi.
Namun,
gerakan - gerakan pembaharuan pada tingkat akar rumput Gereja ini tidak serta
merta mendorong diadakannya sebuah pembaharuan pada tingkat yang lebih besar
dan menyeluruh yaitu lewat konsili ekumenis. Keengganan para Paus untuk
mengadakan konsili dibayangi oleh ketakutan munculnya kembali “konsiliarisme” yang menempatkan konsili
ekumenis sebagai otoritas tertinggi di atas kekuasaan Paus. Selain itu, adanya
pertikaian - pertikaian politis dan teologis dalam Gereja menyebabkan konsili
urung dilaksanakan peperangan yang berlarut - larut antara Prancis melawan
Kekaisaran Gereja Roma dan Spanyol. Setelah menghadapi banyak hambatan dan
tantangan dalam proses menyiapkan konsili, Paus Paulus III pun mengundang para
uskup untuk mengadakan konsili. Konsili dibuka pada tanggal 13 Desember 1545
yang dihadiri oleh 25 Uskup, dan 5 Pemimpim umum Tarekat Religius. Rangkaian
sidang
____________________________
17 Musee Protestant, https://www.museeprotestant.org/en/notice/martin-luther-and-the-lutheran-reformation/
19 Firdaus Syam, Pemikiran Politik Barat Sejarah, Filsafat,
Ideologi, dan pengaruhnya Terhadap Dunia Ke-3, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
Hlm. 89-90
berlangsung
alot dan harus menempuh 3 kurun periode 1545 - 1547, 1551 - 1552, dan 1562 - 1563.
Periode sidang 1545 - 1547 menghasilkan beberapa kesepakatan bersama terkait
masalah-masalah dogmatis dan disipliner, ditetapkannya beberapa dekrit tentang
Kitab Suci dan tradisi suci, kanon Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,
otentisitas Vulgata bukan dalam arti filologis (tiadanya kesalahan-kesalahan
terjemahan) tetapi dalam arti dogmatis (tiadanya kesalahan dogmatis), dosa asal
(Decretum de peccato oroginali), justifikasi (Decretum de iustificatione),
sakramen pada umumnya, baptis dan krisma (Decretum de sacramentalis), kewajiban
residensi para uskup dan larangan mengumpulkan harta kekayaan.
Periode
sidang 1551 - 1551 menghasilkan ajaran dogmatis tentang Ekaristi, Penitensi,
Perminyakan Suci, dekrit disipliner tentang otoritas uskup, tata tertib
kehidupan para imam dan pengelolaan harta benda. Periode sidang 1562 - 1563
menghasilkan dekrit - dekrit tentang komuni dua rupa (yang diyatakan tidak
perlu dilakukan) dan tentang sifat Kurban Ekaristi, perayaan Ekaristi hanya
dalam bahasa Latin, residensi para uskup, yuridiksi para uskup, distingsi
antara imamat umum (universal) dan imamat khusus (pelayanan), fungsi hakiki
imamat pelayanan, otoritas/yuridiksi/kapasitas untuk mempersembahkan kurban
yang otentik, perbedaan hirarki dan awam, pembangunan seminari dan seleksi
ketat para calon imam, sinode keuskupan dan regional, kunjungan pastoral,
penataan administrasi paroki, dekrit tentang perkawinan, api penyucian,
penghormatan para kudus, idulgensi, dan dekrit tentang para religius.
Melalui Bulla Benedictus Deus tertanggal
26 Januari 1564, Pius IV menetapkan berlakunya dekrit - dekrit Konsili. Konsili
Trente dan segala keputusannya segera mendapat dukungan luas. Meskipun ada
keraguan dan sikap pesimis terhadap hasil konsili, usaha - usaha untuk
menyebarkan hasil konsili Trente dan mengimplementasikannya dalam Gereja
semakin kuat. Dalam usaha ini, Serikat Yesus (SJ) mempunyai peran besar, dengan
menyediakan anggotanya yang mempunyai kualifikasi yang memadai dalam
menyebarkan hasil konsili.
Para
uskup bersemangat untuk mengadakan pembaharuan di keuskupannya masing -masing.
Uskup Carolus Borromeus mempunyai peran penting sebagai model sekaligus acuan
pembaharuan dan revitalisasi keuskupan sebagai gereja Lokal. Pembaharuan ini
menekankan adanya dasar sakramental dari imamat pelayanan dan mereafirmasi
legitimasi hirarki Gereja, sebagai respon atas teologi Protestan yang
menekankan imamat semua orang beriman dalam pelayanan. Inti pembaharuan Gereja
pasca konsili dalam aspek disipliner adalah cura animarum yang memberi tekanan
lebih pada praksis - praksis pelayanan umat dan komitmen berpastoral seperti
kunjungan-kunjungan pastoral, sinode keuskupan, seleksi dan formatio yang ketat
bagi para imam, dan menolak praksis - praksis amoral seperti konkubinat,
perjudian, berburu, dan tindakan amoral lainnya. Namun, dalam perkembangannya
konsili Trente seolah - olah menjadi kata terakhir berkaitan dengan ajaran iman
dan disiplin. Bahkan, konsili Trente menjadi semacam sebuah “solusi” untuk
semua masalah doktrinal dan institusional. Konsili
____________________________
Trente
menjadi semacam sebuah ideologi baru yang “memaksa” Gereja Katolik menjadi
berwajah sama atau uniformitas. Gerakan pembaruan atau reformasi yang dinamis
lamban laun berubah menjadi sebuah gerakan yang kaku dan menjadi sebuah
ideologi yang bernama “Tridentinisme”. Tridentinisme tidak lagi hanya keputusan
- keputusan konsili Trente, tetapi juga semua ide, konsep, kebiasaan dan cara
pikir, mentalitas, realitas institusional, sistem teologi, moral, etika,
praktek religius, liturgi, organisasi, dan sentralisasi Roma yang dibangun
pasca Konsili Trente.
Semua
pengaruh dan kontak antara tradisi ekklesial dengan realitas disaring melalui
Konsili Trente. Konsili Trente menjadi sistem ekklesial baru yang bersifat
hirarkis dan terpusat. Memang para uskup tetap sebagai pusat Gereja lokal,
tetapi dikontrol oleh Gereja Roma. Para uskup diwajibkan untuk menjalankan
kunjungan ad limina apostolorum ke Roma setiap lima tahun. Nominasi dan
pemilihan para uskup Gereja Lokal ditentukan berdasarkan laporan penilaian para
nuntius. Keputusan - keputusan keuskupan, hasil sinode, dan laporan keuangan di
bawah kendali Roma. Bahkan, ketaatan para uskup kepada Roma tidak ditentukan
dari efektivitas karya pastoral mereka, tetapi berdasarkan penilaian loyalitas
mereka pada Konsili.
3.
Perkembangan Gereja Pasca Reformasi : di Asia (Termasuk Berakarnya Perkembangan
Gereja Indonesia di Provinsi Sumatera Utara)
Awal
mula kekristenan Asia, lahir di kota suci tiga agama, yakni Yerusalem. Dari
segi geografis kota Yerusalem terletak di wilayah Asia Barat, tetapi dari segi
politis merupakan ibukota suatu provinsi kekaisaran Romawi yang berorientasi ke
arah Eropa. Dari sinilah Isa Al-Masih mengutus murid-murid-Nya menjadi saksi ke
Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.
Masa pertama Gereja di Asia (sampai tahun 1500), menguraikan perluasan
kekristenan pertama ke arah Timur, ke wilayah Timur Tengah, India dan sampai ke
RRT, bagian barat mengabarkan Injil di Asia (1500-1945), menguraikan sejarah
gereja Asia pada zaman misi Gereja Barat. Periode tersebut merupakan periode
yang paling kaya dari segi sumber - sumber historis, baik sumber primer maupun
buku - buku dan lain – lain. Di Asia kekristenan menghadapi agama - agama dan
kebudayaan kuat, yang sulit dimasuki Injil. Kesulitannya menimbulkan beberapa
pertikaian, misalnya mengenai isu tentang kasta, upacara menghormati nenek
moyang dan lain - lain. Penginjilan diarahkan pada golongaan masyarakat yang
dianggap strategis. Berbeda dengan misi katolik, misi Protestan mengutamakan
penerjemahan Alkitab sebagai langkah pertama pekabaran Injil. Gereja protestan
menekankan Firman Tuhan (sola scriptura), ditambah lagi tersedianya Alkitab
dalam bahasa setempat, memungkinkan gereja membentuk teologi kontekstual, tanpa
bergantung terus pada hasil penafsiran orang-orang barat.
Tujuan
misi Protestan adalah menanam serta mendidik gereja - gereja. Beberapa gereja
di Asia,
____________________________
23 Hukum Taurat, berisi 10 perintah
Tuhan Allah
24 J.R Hutauruk, Hlm 24 – 31
terutama
di Korea dan Jepang, dengan cepat mencapai kemandirian ekonomi, sedangkan di
negara lain gereja tetap bergantung pada dana dari luar. Orang Kristen setempat
dipersiapkan dengan tanggung jawab atau kekuasaannya. Perang Dunia II secara
tragis menghentikan “masa remaja” gereja Asia, sehingga dipaksa untuk mencapai
kemandirian. Nantinya, salah satu program kerja misi Protestan ini yaitu mendirikan badan penyebaran agama
Kristen pertama di wilayah Sumatera. Penyebaran agama kristen ini dilakukan
oleh Zending - zending ke Tanah Batak (Tapanuli) yaitu dimulai dari usaha zending yang
dilakukan oleh BMS (Baptist Missionary Society) dari Inggris pada tahun 1824,
dengan mengutus missionaris yang bernama Richard Burton dan Nathaniel Ward ke
daerah Silindung, Tapanuli Utara. Kehadiran kedua missionaris ini disambut baik oleh sebagian penduduk Silindung. Burton
dan Ward menyebarkan agama Kristen dimulai dengan cerita tentang Kesepuluh Dasa
Titah. Penduduk Silindung memahami bahwa isi Dasa Titah itu tidak jauh berbeda
dengan tuntutan falsafah hidup Batak dalam patik dan uhum. Namun, kedua
missionaris itu tidak didukung oleh sarana dan tenaga yang cukup sehingga
kristenisasi di Silindung tidak berkelanjutan. Setelah mundurnya Burton dan
Ward misionaris yang datang dari Inggris, pada tahun 1834 Zending American
Board Commision for Foreign Ministry (ABCFM) dari Amerika mengutus misionaris
yang bernama Henry Lyman dan Samuel Munson. Lyman dan Munson tiba pada 17 Juni
1834 di Pulo Pamarenta, pusat pemerintahan Inggris yang jaraknya tidak jauh
dari Sibolga. Selama satu minggu Lyman dan Munson mempersiapkan perjalanan
memasuki pedalaman Tanah Batak untuk menyebarkan agama Kristen. Perjalanan
mereka cukup panjang untuk bisa memasuki Tanah Batak namun belum sampai di tempat
tujuan mereka yaitu daerah Silindung kedua missionaris ini tewas terbunuh di
Lobupining.
Berikutnya
adalah Zending Ermelo dari Belanda. Zending ini mengutus seorang missionarisnya
yaitu Gerrit van Asselt. Dia diutus Ds. Wetteven dari kota Ermello, Belanda,
tiba di Sumatera Mei 1856 dan berpos di Sipirok, tahun 1857. Dalam menyebarkan
agama Kristen, Van Asselt berhasil membaptis dua orang Batak pada 31 Maret 1861
yaitu Pagar Siregar dengan nama baptis Simon Petrus dan Main Tampubolon yang
diberi nama baptis Jakobus Simon Petrus. Simon Petrus adalah putra raja Pamusuk
(Kampung) Raja Sutan Doli, dari Bungabondar. Jakobus adalah anak rantau asal
Barus. Namun perkembangannya sangat lambat karena kekurangan biaya dan tenaga
misionaris, maka zending Ermelo ini kemudian mengirimkan kembali misionarisnya.
Badan penyebaran agama Kristen yang paling berpengaruh di Sumatera, terkhusus
di wilayah Toba adalah badan perkabaran injil Jerman yang bernama Rheinische
Mission Gesselschaft (RMG). RMG menjadi perintis munculnya gereja dengan jemaat
yang terbanyak di Asia Tenggara yakni Huria Kristen Batak Protestan (HKBP),
yang bemula dari komunitas - komunitas penyebaran agama Kristen yang dibentuk
RMG di tanah Batak pada masa penjajahan Belanda. RMG pula yang memperkenalkan agama
Kristen kepada penduduk Simalungun, Dairi, Nias dan berbagai wilayah di
sekitarnya. RMG mulai didirikan pada tahun 1828. RMG berpusat di Barmen, Jerman. Daerah misi RMG terutama
berada di wilayah Afrika (mulai 1829), Cina (mulai 1846), Kalimantan (1836-1859) dan Sumatera (mulai 1861). RMG
dipimpin oleh seorang presiden (Prases) yang bertugas menjalin hubungan dengan
perusahaan - perusahaan penyumbang
____________________________
25 J.R Hutauruk, Hlm 42 – 43
dana
bagi operasional RMG, dan seorang direktur (Inspektor) yang berlatar theologi
dan bertanggung jawab atas misi kristenisasi.
Pada
masa pengutusan misionaris ke Toba, yang menjabat sebagai direktur RMG pada
saat itu adalah Friederich Fabri (masa jabatan dari 1857- 1884). Sebelum
memasuki Toba, misionaris RMG sudah terlebih dahulu melakukan kristenisasi di
Kalimantan. Pada masa itu, terjadi Perang Banjar, perang antara pihak kolonial
Belanda dengan kerajaan setempat. Pada 1859, ketika perang di Kalimantan
meletus, 9 orang misionaris RMG terbunuh. Beberapa misionaris yang masih
selamat diamankan ke pulau Jawa. Akibat peristiwa tersebut, Fabri selaku
direktur RMG memutuskan untuk pergi ke Amsterdam, Belanda. Fabri hendak mencari
kemungkinan adanya daerah misi yang baru bagi para misionarisnya.
RMG
kemudian menghubungi pastor Witteven, seorang tokoh dari Zending Ermelo.
Zending Ermelo adalah badan penginjilan yang sudah terlebih dahulu memasuki
tanah Batak, yaitu di daerah Angkola dan Sipirok mulai 1857. Kristenisasi di
tanah Batak, tepatnya di Tapanuli Selatan tersebut, dipimpin oleh Van Asselt,
beserta misionaris lainnya yaitu Dammerboer yang menetap di Hutarimbau
(Angkola), Van Dalen di Pargarutan (Angkola) dan Betz di Bungabondar (Sipirok).
Kristenisasi di Tapanuli Selatan tidak begitu memuaskan bagi misionaris, hal
ini disebabkan oleh sebagian besar orang Batak di Tapanuli ini sudah beragama
Islam. Setelah beberapa kali perundingan, diputuskanlah bahwa misionaris
Zending Ermello yang sedang berada di Sumatera akan dipekerjakan untuk RMG.
Mereka akan dibantu oleh misionaris RMG yang sebelumnya berada di Kalimantan,
yaitu Karl Klammer, Carl Wilhelm Heine dan Ernst Ludwig Denninger. Perundingan
di Belanda tersebut menjadi pintu masuk bagi RMG ke Sumatera. Dalam
kristenisasi di Tapanuli Selatan, tercatat hampir 700 orang sudah dikristenkan
sampai tahun 1871. Jumlah yang tergolong pesat. Namun setelah itu, tak ada lagi
kemajuan jumlah yang signifikan. Sebab, sebagian besar penduduk Tapanuli
Selatan sudah memeluk agama Islam.
Sedangkan,
Di bagian utara, di tanah Toba, Van Asselt dan Heine mulai mendirikan setasi
atau jemaat sending di Aek Sarulla, Pangaloan dan Sigompulon (1863). Mereka
juga menjajaki daerah Silindung. Di sana Van Asselt dan Heine disambut baik
oleh Raja Pontas Lumbantobing. Tetapi, Van Asselt dan Heine belum berani
membuka pos penginjilan di Silindung karena dianggap belum kondusif. Asselt dan
Heine mendapat kesan bahwa raja-raja desa di wilayah itu masih suka melakukan
perang antar desa. Keadaan di tanah Toba berubah secara signifikan semenjak
kedatangan misionaris RMG bernama Ludwig Ingwer Nommensen. Dewasa ini, Nomensen
dikenal di kalangan HKBP sebagai orang yang sangat berjasa bagi kemajuan orang Batak Toba. Nommensen lahir
pada 6 Februari 1834 di Nordstrand, perbatasan Jerman. Ia diterima di seminari
RMG di Barmen pada 1857 - 1861. Setelah tamat, pada Oktober 1861, ia pergi ke
Belanda dan belajar bahasa Batak pada Van Der Tuuk. Nommensen melakukan
perjalanan pertamanya ke Toba pada 25 Oktober 1862 lewat Padang, Sumatera
Barat. Nommensen memulai misinya menyebarkan agama Kristen lewat pelabuhan
Sibolga dan Barus hingga ke daerah Tapanuli bagian Utara (Toba). Disana Nommensen disambut
baik oleh keresidenan Sibolga, Nommensen diberikan tempat tinggal sementara
sebelum melanjutkan perjalanannya ke Tapanuli bagian Utara.
____________________________
26 J.R Hutauruk, Hlm 53 - 60
Namun,
pemerintah Belanda (keresidenan Sibolga) melarangnya untuk menetap di Toba.
Daerah tersebut di luar batas daerah hukum Belanda, sebab belum dianeksasi
(ditaklukkan). Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sumatera pada Desember
1861. Pada 14 Mei 1862, Nommensen tiba di kota Padang. Nommensen melakukan
perjalanan pertamanya ke Toba pada 25 Oktober 1862 lewat Padang, Sumatera
Barat. Nommensen memulai misinya menyebarkan agama Kristen lewat pelabuhan
Sibolga dan Barus hingga ke daerah Tapanuli bagian Utara (Toba). Disana
Nommensen disambut baik oleh keresidenan Sibolga, Nommensen diberikan tempat
tinggal sementara sebelum melanjutkan perjalanannya ke Tapanuli bagian Utara.
Namun, pemerintah Belanda (keresidenan Sibolga) melarangnya untuk menetap di
Toba. Daerah tersebut di luar batas daerah hukum Belanda, sebab belum
dianeksasi (ditaklukkan). Pada Mei 1864, Nommensen resmi tinggal di Silindung,
dengan bantuan Raja Pontas Lumbantobing. Nommensen mendirikan sebuah Huta
bernama Huta Dame (Kampung Perdamaian). Di huta tersebut Nommensen dan
masyarakat yang bersimpati padanya mendirikan rumah-rumah, sekolah, gereja dan
rumah sakit. Huta Dame dihuni oleh orang-orang yang berhasil dikristenkan, yang
karena kekristenannya dikucilkan dari kampungnya sendiri. Nommensen, menurut
aturan adat, menjadi raja kampung.
Seiring
dengan itu, kristenisasi terus berkembang. Kepopuleran Nommensen, Huta Dame dan
kristenisasinya menjadi ancaman bagi kekuasaan politik-spiritual dinasti
Sisingamangaraja. Sebab, ajaran Kristen bertentangan dengan ketentuan politik
dan religi Sisingamangaraja. Pada awal 1878, Nommensen berulang kali meminta
agar pemerintah kolonial Belanda melakukan aneksasi terhadap tanah Toba.
Pemerintah kolonial Belanda mengabulkannya, sehingga meletuslah perang Toba.
Dalam perang ini, penginjil dan kolonial bekerjasama untuk memastikan bahwa
orang Batak ”terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa. Dalam
kerjasamanya, pemerintah kolonial mengandalkan senjata, sedangkan para
penginjil mengandalkan pengetahuan adat-istiadat dan bahasa. Para penginjil
berperan sebagai penunjuk arah dan negosiator. Selama aneksasi, ada kampung
yang dihancurkan, ada pula yang mencapai kesepakatan damai karena bernegosiasi
dengan para penginjil. Aneksasi berakhir dengan tewasnya Sisingamangaraja XII
dalam pertempuran di wilayah Dairi pada 1907. Pada 1881, Nommensen diberi gelar
Ephorus (overseer, pengawas) oleh RMG. Sebuah gelar tertinggi dalam manajemen
RMG di daerah koloni.
Selama
aneksasi, Toba mengalami transformasi. Dari kekuasaan politik - spiritual
dinasti Sisingamangaraja, menjadi kekuasaan politik - spiritual Belanda - Kristen.
Politik dan spiritual menjadi satu paket dalam diri masyarakat Toba pada masa
itu, mengingat Toba sudah begitu lama menganut teokrasi Sisingamangaraja,
sehingga sulit bagi masyarakat Toba untuk memisahkan keeratan hubungan dunia
politik dengan dunia spiritual. Ketika Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918,
sudah terdapat lebih dari 180.000 orang yang dibaptis, 510 buah sekolah dengan
32.700 murid, 788 guru injil dan 2.200 penatua. Gereja - gereja yang dibangun,
dipimpin oleh pendeta Batak yang telah ditahbiskan. Dengan perubahan yang
begitu signifikan ini, Nommensen telah menjadi transformator bagi peradaban
manusia di Toba. Masyarakat Toba tumbuh menjadi orang - orang yang beragama dan
terdidik.
____________________________
27 Paul Bodholt Pedersen, Darah Batak
dan Jiwa Protestan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975), Hlm. 61 - 62
4.
Pendidikan Theologi sebagai Pemicu Masyarakat Penganut Kepercayaan Lain
Beralih Kepada Kepercayaan Kristen di Sumatera Utara
Dalam
kurun waktu yang tidak lama setelah batakmission oleh keempat missonaris dari
zending RMG dan zending Ermello di Tanah Batak (1861), semakin dirasakan
meluasnya pekerjaan penyebaran agama Kristen sedangkan jumlah para penginjil
masih tergolong sedikit. Keadaan ini disebabkan karena masyarakat di Tanah
Batak semakin terbuka menerima agama Kristen dan kurangnya tenaga missonaris
dari kalangan zending Eropa, maka mereka memutuskan untuk mendirikan seminari
untuk mendidik tenaga – tenaga yang kelak akan menjadi missionaris dari
kalangan pribumi yang mampu membantu misionaris dari zending Eropa. Tujuan
didirikan seminari di Tanah Batak oleh misonaris yaitu; pertama, melayani orang
Batak yang belum menganut agama Kristen agar menjadi Kristen, tujuan pertama
ini mula-mula dicapai melalui strategi pendekatan dan pertobatan perorangan;
kedua, mengajar orang Batak membaca dan menulis, karena membina secara
kerohanian saja tidak mungkin membentuk manusia yang seutuhnya jika manusia itu
buta aksara; ketiga, mengajar dalam bidang pengetahuan umum.
Missionaris
umumnya membuka seminari sejak awal kegiatan mereka karena sarana pendidikan
dipandang sangat efektif untuk menyebarkan agama Kristen. Seminari – seminari
yang didirikan oleh missionaris diantaranya; Pertama, Seminari Parausorat (1868
– 1876), Seminari Parausorat ini dikenal sebagai “perguruan theologia” yang
pertama dalam sejarah pendidikan teologi HKBP berdiri pada April 1868. Lama
belajar dalam seminari ini ditetapkan selama 2 tahun dan diasuh oleh August
Schreiber. Angkatan pertama dari seminari Parausorat berjumlah 5 orang siswa. Tentang pendidikan
di seminari ini, Schreiber menulis demikian :
“Yang
menjadi mata pelajaran pokok dalam pendidikan ini adalah pengetahuan Alkitab
dan Katekismus. Sebagai tambahan, kepada mereka diberi pejaran tantang ilmu
bumi, sejarah, berhitung, ilmu alam dan bernyanyi. Buku - buku untuk pelajaran
itu sama sekali tidak ada, sebab itu saya bersama siswa - siswa menerjemahkan
buku sejarah Alkitab yang ditulis Zhan, tokoh pendidikan yang terkenal di
Moers. Kerajinan dan kesungguhan para siswa sangat menggembirakan hati saya.
Kalau mereka sudah mengikuti pendidikan sealama dua tahun, mereka dapat
diangkat sebagai pembantu dalam pekerjaan zending.”
Selain
Schreiber pada tahun 1871, dia memiliki seorang rekan kerja misionaris
Leipoldt. Angkatan kedua dari seminari ini berjumlah 12 orang. Angkatan ketiga
dari seminari ini berjumlah 10 orang. Dengan jumlah 27 siswa selama tiga
angkatan, penilaian Schreiber dan Leipoldt sangat positif terhadap siswa -
siswanya dan menaruh harapan besar bahwa kelak siswa lulusan seminari ini
menjadi pendeta dari kalangan pribumi yang membantu misionaris dalam
mengajarkan Agama Kristen. Namun tidak semua lulusan seminari ini menjadi
pendeta, ada 2 orang yang meninggalkan tugas mereka dan mencari pekerjaan lain.
Tujuan seminari ini adalah dwi-fungsi, yaitu mendidik para siswa menjadi
pendeta dalam gereja,
yang membantu misionaris dan untuk menjadi guru di sekolah sekolah yang sudah
____________________________
28 Andar Lumbantobing, Makna Wibawa
Jabatan Dalam Gereja Batak (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1992),
Hlm. 12
berdiri.
Sesuai dengan tujuan itu maka kurikulum yang dijalankan di seminari itu, selain
pengetahuan teologia, juga meliputi pengetahuan umum. Pengetahuan teologia yang
diajarkan, meliputi: (1) Pengetahuan, Tafsiran dan Sejarah Alkitab, (2)
Katekismus, (3) Sejarah Gereja.
Proses
belajar - mengajar di seminari Parausorat berbahasa Angkola. Siswa yang bukan
dari latar belakang bahasa (budaya) Angkola, tetap menggunakan bahasa Batak
Angkola. Seminari Parausorat ini mengalami kesulitan dalam hal buku pelajaran. Kurangnya buku pendukung untuk seminari
ini mengharuskan Schreiber dan Leipoldt bekerja keras menerjemahkan isi buku
terbitan Eropa dan melengkapinya dengan pengetahuan yang sesuai dengan
kebutuhan siswa di seminari ini. Sebelum memasuki angkatan ketiga penerimaan
siswa di seminari ini, Schreiber harus kembali ke Eropa pada tahun 1873 karena
alasan kesehatannya. Setelah kembali ke Eropa, Schreiber tidak pernah lagi
kembali ke seminari Parausorat. Selama masa pendidikan angkatan ketiga, seluruh
proses pendidikan ditangani oleh Leipoldt. Namun diakhir masa pengajaran
angkatan ketiga, Leipoldt juga harus kembali ke Eropa karena kondisi
kesehatannya sangat menurun dan tak mengijinkan lagi untuk tinggal lebih lama
di Parausorat.
Daerah
Tapanuli Selatan yang telah lebih dulu dimasuki Islam, mengakibatkan kurang
berminatnya masyarakat menerima pendidikan dari misionaris. Masyarakat lebih
memilih memasukkan anak - anaknya ke sekolah - sekolah milik pemerintah kolonial
Belanda. Sekolah ini tidak mengajarkan ajaran agama secara khusus, diluar jam
sekolah anak - anak mereka tetap dapat memperoleh pendidikan agama Islam. Tidak
seperti di seminari yang isi pelajarannya sebagian besar tentang agama Kristen
dan setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti ajaran agama Kristen. Alasan lain
ditutupnya seminari ini karena tidak ada tenaga pengajar yang menggantikan
mereka, serta kristenisasi di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan yang lambat
perkembangannya maka seminari ini ditutup. Kedua, Seminari Pansurnapitu (1877 –
1900), pada Juni 1877 atas persetujuan dari RMG secara resmi didirikanlah
Seminari Pansurnapitu sebagai tempat pendidikan teologi. Proses belajar -
mengajar di seminari ini dibawah bimbingan P.H Johansen dan J.H Meerwaldt. Seminari
Pansurnapitu dibuka dengan 15 orang angkatan pertama. Kurikulum yang diajarkan
di seminari ini juga tidak berbeda dengan yang diajarkan di Seminari
Parausorat. Demi peningkatan mutu dari seminari ini maka pendidikan
diperbaharui oleh P.H Johansen. Tidak berbeda dengan Schreiber, Johannsen juga
menyisihkan waktu dan tenaganya untuk menterjemahkan buku - buku pelajaran terbitan
Eropa ke dalam bahasa Batak.
Nantinya,
Masyarakat Tapanuli Utara berlomba - lomba untuk memperoleh pendidikan dan
menjadi pendeta yang dianggap sebagai jalan untuk memperoleh hasangapon
(kehormatan atau kemuliaan) yang begitu didambakan oleh orang - orang
Batak.Penerapan disiplin yang ketat tidak mengurangi minat masyarakat
menyekolahkan anak - anak mereka, orang tua tetap antusias menyekolahkan
anaknya ke seminari yang semakin hari semakin bertambah hingga memenuhi seluruh
ruangan yang dipersiapkan. Alasan masyarakat begitu antusias menyekolahkan
anaknya ke seminari yaitu : Pertama, minat dan penghargaan masyarakat akan
pendidikan meningkat pesat. Mereka tidak puas kalau anak - anak mereka hanya
tamat sekolah dasar, sedangkan satu - satunya sekolah lanjutan pada masa itu
hanya seminari ini.
____________________________
29 J.R Hutauruk,
hlm. 206
Kedua,
masyarakat melihat bahwa pendidikan di seminari ini membuka kesempatan bagi anak
- anak mereka untuk menjadi guru ataupun pegawai pemerintah, kedudukan yang
menurut mereka jauh lebih terhormat dari sekedar pekerja kasar. Ketiga,
masyarakat senang bila anak - anak mereka dididik sepenuhnya oleh zending,
karena kepercayaan mereka, terutama yang sudah Kristen, terhadap misionaris
sangat besar.
Ketiga,
Seminari Sipoholon (1901), semenjak dibukanya Seminari Sipoholon, telah banyak
membantu masyarakat di Sipoholon dan sekitarnya memperoleh pengetahuan baru.
Sebagai lembaga pendidikan, seminari memiliki fasilitas - fasilitas yang
mendukung sehingga menarik perhatian masyarakat untuk menuntut ilmu di sini.
Seminari yang dipersiapkan untuk menyebarkan ajaran agama Kristen ini tetap
mengutamakan pelajaran dengan nuansa religius. Tujuannya untuk menguatkan
keyakinan siswa terhadap ajaran agama Kristen. Seminari ini benar - benar
dipersiapkan untuk mendidik masyarakat Batak guna mendalami, memahami, dan
menerima injil. Para siswa sekaligus akan dipersiapkan sebagai pendeta dan guru
sekolah, maka kurikulum seminari ini juga diperkaya, terutama dalam bidang
pengetahuan umum, karena mutu guru tamatan dari seminari ini diharapkan
mendapat pengakuan yang baik dari pemerintah Belanda.
Maka
dari itu, hanya dari pendidikan Theologi yang pada prakteknya mendirikan
seminari – seminari di daerah Provinsi Sumatera Utara, masyarakat menjadi
tertarik dan berpikir rasional terhadap kepercayaan tradisional yang dianutnya
dan perlahan mulai meninggalkan kepercayaan tradisionalnya itu. Menurut data dari sensus penduduk BPS tahun
2010 (sensus penduduk terbaru secara nasional hingga saat ini) menunjukkan
Provinsi Sumatera Utara berada diposisi ke-7 dengan presentase penduduk Kristen
tertinggi di Indonesia sebesar 33,27% dari total penduduk keseluruhan Provinsi
Sumatera Utara.
Lantas,
bagaimana perkembangan gereja – gereja yang asli berasal dari Provinsi Sumatera Utara ? gereja –
gereja di Provinsi Sumatera Utara terus berkembang dengan menjalankan 3 tugas
dan panggilan gereja, yakni Koinonia (Bersekutu), Marturia (Kesaksian), dan
Diakonia (Pelayanan). Sampai saat ini terdapat ± 15 gereja yang berasal dari
Sumatera Utara terdaftar dalam anggota
PGI (Persekutuan Gereja – Gereja Di Indonesia) dari total 89 gereja di
Indonesia yang terdaftar. Sampai saat
ini HKBP menjadi gereja asli Provinsi
Sumatera Utara dengan gerejanya
yang tersebar di seluruh daerah Indonesia, Asia, Hingga Amerika.
5. Kesimpulan
Dengan
adanya peristiwa Reformasi Gereja, memicu Gereja Katolik Roma untuk
memperbaharui sistem internal gerejanya dengan kembali ke ajaran Alkitabiah.
Hal ini tidak lepas dari perintis gerakan Reformasi Gereja yaitu Desiderius
Erasmus hingga dilanjutkan oleh DR.Martin Luther dengan memakukan 95 dalilnya
di pintu Gereja Kastil Wittenberg. Dari hal itulah, gereja – gereja di Asia
termasuk Provinsi Sumatera Utara mengalami banyak perkembangan. Perkembangan
gereja di Provinsi Sumatera Utara tidak lepas dari campur tangan missionaris RMG (Rheinische
Mission Gesselschaft) sebagai
____________________________
perintis
munculnya gereja dengan jemaat terbanyak di Asia Tenggara yakni Huria Kristen
Batak Protestan (HKBP). Tentu, dalam praktiknya mereka mendirikan seminari –
seminari di daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai sarana untuk menyebarkan
kabar baik kepada masyarakat yang masih menganut kepercayaan lain dan sebagai
sarana untuk mencetak masyarakat yang sudah “percaya” nantinya guna menjadi
seorang pendeta untuk melanjutkan penginjilan serta perkembangan gereja di
daerah Provinsi Sumatera Utara.
-
Daftar Pustaka
Buku :
1.
Tony
Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2007
2.
Firdaus
Syam, Pemikiran Politik Barat Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan pengaruhnya
Terhadap Dunia Ke-3, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
3.
J.R
Hutauruk, Menghargai Dokumen Sejarah Gereja, Medan: Viktor Silaen, 2016.
4.
Paul
Bodholt Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1975.
5.
Andar
Lumbantobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1992.
6.
David
L. Larsen, The Company of the Preachers: A History of Biblical Preaching from
the Old Testament to the Modern Era, AS: Kregel Academic & Professional,
1998.
Internet :
2. Desiderius Erasmus: Theological, Political & Economic
Ideas Video, https://study.com/academy/lesson/desiderius-erasmus-theological-political-economic-ideas.html
4. Musee Protestant, https://www.museeprotestant.org/en/notice/martin-luther-and-the-lutheran-reformation/
5. Tirto.ID, 500 Tahun Setelah Martin Luther Mengkritik
Gereja, Tirto.id, https://tirto.id/500-tahun-setelah-martin-luther-mengkritik-gereja-czj9
6. Oxford Bibliographies, Renaissance and Reformation, https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780195399301/obo-9780195399301-0027.xml
8. Houston Chronicle, Before Martin Luther there was Erasmus
https://www.houstonchronicle.com/news/article/Before-Martin-Luther-there-was-Erasmus-a-14570803.php
9. Encyclopedia Britannica, Erasmus Dutch humanist https://www.britannica.com/biography/Erasmus-Dutch-humanist
Comments
Post a Comment