Karya Tulis Ilmiah : Implikasi Reformasi Gereja dengan Perkembangan Gereja di Indonesia bagian Sumatera Utara

Kevin Exaudi Siregar
10911
XI IPS 3

Implikasi Reformasi Gereja dengan Perkembangan Gereja di Indonesia bagian
 Sumatera Utara

Reformasi Gereja menjadi tolak ukur para Teolog Kristen untuk menilik kemajuan perkembangan agama Kristen di dunia termasuk diantaranya negara Indonesia. Hal ini tidak lepas dari peran cendekiawan dan pendeta yang mempunyai pemikiran kritis yakni Desiderius Erasmus dan DR. Martin Luther dengan 95 dalilnya pada 1517. Dengan 95 dalilnya tersebut, masyarakat eropa bahkan dunia mempunyai pemikiran yang rasional terhadap fungsi gereja, termasuk diantaranya Provinsi Sumatera Utara. Perkembangan gereja di Sumatera Utara tidak bisa dilepaskan dari sosok  Richard Burton dan Nathaniel Ward seorang missionaris utusan BMS dari Inggris, yang memulai penginjilannya didaerah Silindung, Tapanuli Utara. Dari proses penginjilannya itu, mengaktualkan Provinsi Sumatera Utara sebagai akar dari perkembangan gereja di Indonesia. Disini penulis akan menjelaskan Implikasi Reformasi Gereja dengan berakarnya perkembangan gereja Indonesia di Provinsi Sumatera Utara hingga bagaimana peran Missionaris mengubah pola pikir masyarakat penganut kepercayaan lain menjadi pemeluk agama Kristen di Provinsi Sumatera Utara.

Keyword : Reformasi Gereja, Desiderius Erasmus, Martin Luther, Missionaris BMS

     1. Permulaan Reformasi Gereja : Era Desiderius Erasmus Roterodamus
Permulaan Reformasi Gereja dimulai dari kemunculan seorang tokoh yang merupakan seorang cendekiawan, ahli teologia, dan merupakan salah satu sarjana paling cerdas di era-renaissance, tokoh tersebut bernama Desiderius Erasmus. Nama tersebut memang tidak sepopuler Martin Luther, tetapi peranan Desiderius Erasmus dalam mereformasi gereja menjadi titik ukur perkembangan Reformasi Gereja. Desiderius Erasmus merupakan seorang humanis yang terkemuka dan merupakan perintis reformasi gereja. Kisah kelahiran Desiderius Erasmus tidak pernah terdokumentasi dengan baik. Para sejarawan menyebutnya Ia lahir di Rotterdam, tetapi ada pula yang menyebut Ia lahir di Kota Gouda. Tanggal kelahirannya juga rancu, banyak yang mencatat 27 Oktober 1466 sebagai hari kelahirannya, ada juga sejarawan yang menyebut 26 atau 28 Oktober 1466 sebagai hari kelahirannya.
____________________________
1 Csl.Edu, Desiderius Erasmus Biography, https://reformation500.csl.edu/bio/desiderius-erasmus/

Satu hal yang pasti, para ahli bersepakat mengenai tanggal kematian cendekiawan Renaisans yang pernah terlibat perselisihan dengan Martin Luther ini. Mereka menyebut Desiderius Erasmus meninggal akibat penyakit disentri yang menyerangnya saat berkunjung ke Basel, Swiss, pada 12 Juli 1536.
Desiderius Erasmus  lahir di lingkungan keagamaan, hal itu tidak membuat Erasmus menutup mata terhadap kejanggalan doktrin gereja warisan abad pertengahan. Sebaliknya, Desiderius Erasmus lebih suka melakukan petualangan intelektual seraya menentang monopoli pengetahuan yang dilakukan Gereja Katolik. Perjalanan hidup Desiderius Erasmus bisa dikatakan sangat terjal, nasibnya ketika masih kanak-kanak tidaklah mujur. Desiderius  Erasmus lahir sebagai anak haram dari seorang pendeta sehingga keikutsertaannya dalam kehidupan biara seolah-olah sudah diatur. Setelah kedua orang tuanya meninggal akibat wabah penyakit pada 1483, Desiderius Erasmus dan kakak laki-lakinya dikirim ke sebuah sekolah biara yang sangat konservatif dan terkenal keras. Bukannya menjadi alim, Desiderius Erasmus malah tumbuh menjadi seorang pembangkang.
Kendati menikmati momen pendekatan diri kepada Tuhan, Desiderius Erasmus menolak aturan keras dan metode ketat para guru agama waktu itu. Di saat bersamaan, dia juga mulai mendambakan praktik kekristenan di luar jalur tradisional, tanpa memiliki pilihan kedua, Desiderius Erasmus mengambil sumpah di biara St. Augustine pada 1488. Empat tahun kemudian, dia naik menjadi pendeta di tempat yang sama. Saat menjadi pendeta, Desiderius Erasmus kembali membuat ulah, Ia jarang terlibat dalam kegiatan keagamaan dan lebih suka mencuri-curi kesempatan untuk menulis puisi, belajar filsafat, dan membaca buku -buku klasik berbahasa latin. Hal ini diperkuat dengan sebuah tulisan dari Lucien Febvre dalam bukunya berjudul The Problem of Unbelief in the Sixteenth Century: The Religion of Rabelais, dikatakan demikian,
 “Sedikit demi sedikit mulai tumbuh dalam diri Erasmus harapan untuk menggapai kebebasan, serta perasaan protes terhadap kemiskinan ilmu pengetahuan dan keburukan tingkah laku senior-seniornya di biara yang disebutnya sebagai orang barbar."
Berdasarkan catatan Richard L. DeMolen, keleluasaan norma yang berlaku di St. Agustine memberikan sedikit ruang kepada Desiderius Erasmus. Ini memungkinkannya untuk melaksanakan tugas-tugas sekuler, ketimbang kegiatan misionaris yang dibencinya. Selama kurang lebih lima tahun, Desiderius Erasmus lebih suka mengajar di sekolah -sekolah dan terlibat dalam institusi-institusi non-keagamaan lainnya. Kehidupan Desiderius Erasmus baru benar-benar berubah tatkala berjumpa dengan uskup dari Cambray bernama Henry de Bergen.
___________________________


Sang uskup terkesan dengan kemampuan bahasa Latin Desiderius Erasmus dan menawarinya pekerjaan sebagai sekretaris pada 1493. Selang dua tahun, Henry de Bergen memberikannya beasiswa untuk belajar teologi di Universitas Paris. Namun, ketimbang menimba ilmu demi kepentingan biara, Desiderius Erasmus memilih menggunakan kesempatan itu untuk “kabur” dari kehidupan biara yang selama ini dianggapnya menyesakkan.
Nantinya, pada 1495 Kota Paris menjadi tempat Desiderius Erasmus melanjutkan studinya dan juga mengajar di Universitas Paris, khususnya di Collége de Montaigu. Perguruan tinggi tersebut dikenal sebagai pusat semangat reformasi. Dalam menjalani studinya ini, wawasan Desiderius Erasmus menjadi lebih luas, tidak butuh waktu lama sampai dirinya benar-benar dikelilingi para cendekiawan yang berpikiran terbuka, sebagaimana yang selama ini diidam-idamkannya. Terlepas dari kesenangannya menulis puisi, Desiderius Erasmus saat itu memang tidak perlu lagi sembunyi - sembunyi saat hendak menulis puisi dan mempublikasikan tulisan - tulisan akademis. Namun ternyata hal itu belum bisa memuaskan hati Desiderius Erasmus. Ia ingin sekali memiliki kehidupan bebas dengan bertukar ilmu pengetahuan dengan sesama pemikir di seluruh daratan Eropa.
Encyclopedia Britannica menyebut Desiderius Erasmus sebagai sarjana yang suka mengembara. Dengan bantuan murid - muridnya di Paris, pada 1499, Erasmus berhasil mendapatkan uang pensiun untuk membiayai perjalanannya ke Inggris. Maka dimulailah kehidupan baru Erasmus sebagai sarjana independen. Di Inggris, Desiderius Erasmus menemukan minat baru atas bantuan tokoh - tokoh humanisme terkenal seperti John Colet dan Thomas More. Di sana pulalah Desiderius Erasmus mulai tertarik kepada studi keagamaan sekaligus menjadi penganut humanisme yang setia. Di sela waktu, dia giat memperdalam kemampuan bahasa Yunani kuno yang kemudian dipergunakannya untuk menerjemahkan naskah kitab Perjanjian Baru. Berkat kemampuannya berbahasa Latin dan Yunani, Desiderius Erasmus bisa membandingkan banyak terjemahan Alkitab berbahasa Latin dengan naskah - naskah Perjanjian Baru yang berasal dari Yunani, atas bantuan John Colet, Desiderius Erasmus kemudian mendedikasikan diri menjadi editor pertama naskah Perjanjian Baru dan beberapa kesusastraan klasik lainnya selama periode Renaisans. Selain Inggris, Desiderius Erasmus juga pernah bertandang ke Jerman, Belgia, Italia, dan Swiss. Dalam kurun kurang lebih 10 tahun, aktivitas akademisnya terbagi - bagi di tiga negara yaitu Belanda, Perancis, dan Inggris.
Keinginan Desiderius Erasmus untuk mengubah sistem gereja Katolik dilandasi rasa prihatinnya melihat praktik penjualan surat pengampunan dosa. Menurutnya, gereja hanya memanfaatkan kemiskinan wawasan yang terstruktur di kalangan umat. Desiderius Erasmus berpendapat gereja tidak seharusnya memonopoli isi Alkitab dan segala bentuk kesusastraan klasik. Ia kemudian mengusulkan agar gereja Katolik melakukan perubahan mendasar dengan mulai menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa rakyat.
____________________________
8 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), Hlm.130

Kutipan tulisannya dalam bagian pengantar Perjanjian Baru, Ia mengatakan,
“Saya dengan keras menentang mereka yang melarang orang biasa membaca Kitab Suci atau yang melarang menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari."
Usulan Desiderius Erasmus tersebut malah menuai kecurigaan kalangan gereja Katolik. Mereka dengan giat mulai menghujaninya dengan berbagai macam hinaan dan memberikan label sebagai seorang pengecut dan pelaku bidah. Di sebagian wilayah Eropa, buku-bukunya dibakar dan sempat masuk ke dalam daftar bacaan terlarang.
Desiderius Erasmus tidak berpangku tangan, ia justru semakin sengit melawan. Melalui tulisan tahun 1494/1495 yang bertajuk Antibarbari, Desiderius Erasmus mengemukakan kekuatan edukasi untuk memperbaiki sifat manusia dan karakteristik mereka yang disebutnya masih memiliki sifat barbar. Dalam buku The Company of the Preachers karya David L. Larsen, disebutkan bahwa tulisan Desiderius Erasmus itu punya peran besar membentuk pemikiran Martin Luther. Tokoh Reformasi Gereja Protestan itu disebutkan banyak membaca karya Desiderius Erasmus, sebelum akhirnya menerbitkan karya terpentingnya yang berjudul "Ninety-five Theses" pada 1517. Meskipun begitu, Luther dan para pengikutknya memilih mencampakan Erasmus. Mereka menghakimi Desiderius Erasmus akibat keteguhannya menolak unsur radikalisme yang diusung para pemimpin kelompok Reformasi dalam menuntut perubahan, berdasarkan tulisan Rebecca Newberger Goldstein dalam New York Times, pemikiran Desiderius Erasmus memang memiliki banyak kesamaan dengan Martin Luther. Mereka sama-sama menolak segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan pihak gereja serta segala takhayul aneh yang didukungnya. Namun sayang, keduanya tidak akur. Sejarawan Gereja Protestan Philip Schaff mencatat bahwa akibat serangkaian pertentangan tersebut Desiderius Erasmus tidak diakui baik di Katolik maupun Protestan. Bahkan, ia sempat diberi label ateis dan dianggap musuh semua agama oleh penganut Lutheranisme. Catatan Philip Schaff yang dihimpun Dave Armstrong ke dalam Protestantism: Critical Reflections of an Ecumenical Catholic (2013) tersebut juga menyebut pada akhirnya Martin Luther menarik segala kecamannya dan mengakui hasil kerja Desiderius Erasmus melalui sepucuk surat pada 1524, isi surat tersebut, yakni “Seluruh dunia harus memberikan kesaksian tentang keberhasilan Anda menumbuhkan pemahaman yang benar tentang Alkitab dan karunia Tuhan ini telah ditampilkan dengan indah dan luar biasa di dalam dirimu, memanggil rasa terima kasih kami,” tulis Martin Luther kepada Desiderius Erasmus. Oleh karena itu, peranan Desiderius Erasmus justru menjadi sentral dalam perkembangan reformasi gereja, karena permulaan pemikiran untuk mengkritik gereja yang sudah menyimpang dari pusat ajarannya yaitu Alkitab dimulai dari dalam dirinya.
___________________________
9 David L. Larsen, The Company of the Preachers: A History of Biblical Preaching from the Old Testament to the Modern Era (AS: Kregel Academic & Professional, 1998) Hlm. 125
10 The New York Times, Erasmus vs. Luther — a Rift That Defined the Course of Western Civilization, https://www.nytimes.com/2018/03/29/books/review/fatal-discord-michael-massing.html
12 Desiderius Erasmus: Theological, Political & Economic Ideas Video,  https://study.com/academy/lesson/desiderius-erasmus-theological-political-economic-ideas.html


2. Puncak Reformasi Gereja : Era Martin Luther yang Memicu Gereja Katolik Memperbaharui Sistem Internalnya
Perlahan - lahan peradaban Eropa Abad Pertengahan mulai mengalami krisis. Pada 1347 -1351, wabah pes merenggut sekitar 75 juta populasi. Kota - kota Eropa dilanda kepanikan. Sementara itu, aliansi politik tradisional antara Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan pangeran - pangeran Eropa mulai retak. Ambruknya peradaban abad pertengahan dan kebangkitan era Renaisans yang bermula dari Italia turut melahirkan para pemikir Kristen yang mulai menentang otoritas tinggi Gereja Katolik. Lima ratus dua tahun lalu pada 31 Oktober 1517, seorang biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg, kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, ia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu dicatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme. Berbekal pendidikan magister hukum dari Universitas Erfurt, Martin Luther memutuskan jadi biarawan ketika usianya masih 21 tahun. Perilakunya sangat asketik. Ia rajin berdoa, puasa, bertapa, menahan hawa dingin tanpa selimut, dan melakukan ritual biarawan lainnya.
Praktik indulgensi muncul pada abad ke-11 dan 12 saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "proses penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471. Seiring perjalanan waktu, para pemimpin Gereja memutuskan bahwa membayar sejumlah uang untuk proses indulgensi bisa dilakukan setiap orang, tidak hanya mereka yang terjun ke Perang Salib. Selama beberapa abad berikutnya, penjualan indulgensi menyebar luas dan mencakup pengampunan dosa atas orang - orang yang sudah meninggal. Hal ini terutama diserukan dalam khotbah - khotbah biarawan Ordo Dominikan, John Tetzel. Praktik jual beli indulgensi pun jadi jamak. Di bawah kepemimpinan Paus Leo X, Gereja meraup pemasukan besar dari umat yang kemudian dialokasikan untuk membangun kembali Basilika Santo Petrus di Roma. Martin Luther memandang praktik tersebut sebagai perilaku korup, dari sanalah 95 dalil Martin Luther bermula.
Dalam sebuah debat publik di Leipzig pada 1519, Martin Luther menyatakan bahwa “orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya.” Akibatnya, Martin Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi tak boleh ikut sakramen.
Pada 1520, Martin Luther menjawab ancaman tersebut dengan menerbitkan tiga risalah terpentingnya, yaitu "Seruan kepada Bangsawan Kristen" yang berpendapat bahwa semua orang Kristen adalah imam dan mendesak para penguasa untuk mengambil jalan reformasi gereja. Kedua, "Tawanan Babilonia Gereja", yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, "Tentang Kebebasan Seorang Kristen" yang mengatakan kepada orang-orang Kristen bahwa mereka sudah terbebas
____________________________
13 Wikipedia, Martin Luther, https://en.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther

dari hukum Taurat yang kini telah digantikan ikatan cinta pada hukum tersebut. Dewan Gereja pun terus memanggil Martin Luther, yang segera terlibat perdebatan sengit dengan para pemuka Gereja Katolik hingga dicap bidah dan sesat. Martin Luther sempat melarikan diri ke Kastil Wartburg dan bersembunyi selama sepuluh bulan.
Gerakan Reformasi Martin Luther menuntut menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Jerman. Dampaknya luas, karena orang tidak lagi perlu bergantung pada seorang imam untuk membaca dan menafsirkan Alkitab. Alhasil, legitimasi para padri Katolik pun terancam tergerus. Selain itu, Martin Luther mengkampanyekan pendidikan universal untuk anak perempuan dan laki - laki di zaman ketika pendidikan hanya bisa diakses oleh orang kaya.
Ia juga banyak menulis nyanyian rohani, traktat, berkhotbah tentang pandangan reformasi dan melakukan serangkaian perjalanan hingga kematiannya pada 1546. Namun, gerakan reformasi yang melahirkan pecahan Kristen Protestan ternyata harus dibayar mahal. Serangkaian perang antara kubu Katolik Roma dan Reformis Protestan meletus pada 1524 - 1648. Puncak dari konflik berdarah tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618 - 1648 yang menewaskan sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya diakui diantaranya adalah Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. Warisan intelektual dan politik Martin Luther mengilhami para tokoh pembaharu Protestan di zamannya seperti Calvin, Zwingli, Knox, dan Cranmer. Pemikiran para pembaharu ini pun pada gilirannya melahirkan berbagai jenis denominasi Protestan, misalnya Gereja Lutheran, Reformed, Anglikan, Anabaptis, dan banyak lagi lainnya yang terus berkembang sampai sekarang.
Munculnya reformasi Gereja menantang para pemimpin Gereja untuk mempertahankan kesatuan Gereja sekaligus membangkitkan kesadaran perlunya Gereja merumuskan doktrin ajarannya yang lebih definitif dan jelas untuk menangkis serangan dari kaum reformis. Selain itu, Gereja merasa perlu mengadakan pembaruan internal dan menyeluruh. Dalam konteks inilah konsili Trente diadakan. Keputusan-keputusan Konsili mampu memberi arah dan dasar baru bagi perkembangan Gereja untuk mengarungi jaman. Meski demikian, proses yang positif itu lambat laun mengalami distorsi tujuan menjadi sebuah gerakan Tridentinisme, yang di satu sisi membantu gerak Gereja tetapi di sisi lain menjadikan Gereja lebih bercorak intitusional dan sedikit mengabaikan perannya sebagai sebuah lembaga spiritual. Selama ini, ada asumsi umum yang menyatakan bahwa Konsili Trente muncul sebagai sebuah reaksi munculnya gerakan reformasi Gereja yang menantang sekaligus mempertanyakan doktrin-doktrin Gereja (Katolik). Faktanya, Konsili Trente bukanlah sekedar sebuah reaksi sekaligus jawaban gerakan reformasi yang dipicu protes oleh Martin Luther. Konsili ini sebenarnya sebuah gerakan pembaharuan Gereja yang embrionya sudah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Proses panjang ini mendapat momentumnya ketika Protestanisme mulai serius mengancam kesatuan Gereja (Eropa). Desakan - desakan pembaharuan itu diawali dengan adanya gelombang usaha reformasi dalam biara - biara ordo religius khususnya di kawasan Italia dan Spanyol.
___________________________

Misalnya, Antonio Pierozzi, seorang Dominikan muda di Florence membangun kembali cara hidup Dominikan yang lebih ketat (strict of observance) dengan mendirikan biara San Marco tahun 1436 yang kemudian menjadi pusat usaha-usaha pembaharuan di Italia. Ketika ditunjuk menjadi Uskup Agung Florence tahun 1444, Pierozzi juga mengadakan pembaharuan di keuskupannya terkait dengan residensi, reksa pastoral, dan pelayanan terhadap kaum miskin. Pembaharuan monastik yang signifikan dan penting itu rupanya dipengaruhi dengan lahirnya dan berkembang sekolah - sekolah spiritual. Sekolah spiritual yang paling terkenal adalah Devotio Moderna, sebuah gerakan spiritual orang - orang Flandrika dan Belanda yang menekankan disiplin doa kontemplatif. Devotio Moderna sangat mempengaruhi cara hidup kesalehan negara - negara Katolik bagian Selatan khususnya Italia dan Spanyol. Selain itu, juga muncul gerakan - gerakan pembaharuan tradisi monastik yang lebih tua seperti tradisi Fransiskan dan Kartusian yang menekankan tradisi meditasi dan mistisisme. Sekolah-sekolah spiritual ini bahu membahu membangun sebuah daya yang menjadi dasar spiritual reformasi dalam Konsili Trente. Puncaknya, muncul gerakan spiritual yang baru, yaitu Latihan Rohani (Spiritual Exercise) Ignatius Loyola yang lebih menekankan pertobatan dan hidup kerasulan aktif dari pada tradisi mistis - kontemplatif.
Selain pembaruan monastik, muncul juga gerakan untuk mereformasi institusi dan struktur kelembagaan dan kepemimpinan dalam Gereja. Selama ini praktek nepotisme menghasilkan para imam, uskup dan kardinal yang tidak layak. Selain itu, masalah residensi para uskup. Selama ini para uskup beserta imam - imamnya melalaikan tanggung jawab pastoral di keuskupannya demi uang. Beberapa tokoh yang terkenal gigih mereformasi institusi keuskupan antara lain : Uskup Rocheser John Fisher di Inggris (1535) yang memberi contoh para imamnya untuk melaksanakan komitmen pastoral di keuskupannya dengan melaksanakan cara hidup miskin, sederhana yang ketat dan penyangkalan diri di Spanyol, Kardinal Francisco Ximenes de Cisneros, seorang Fransiskan yang ketat dan Uskup Agung Toledo mendorong para imamnya untuk memperbaiki pelayanannnya dengan studi kitab suci dan teologi.
Namun, gerakan - gerakan pembaharuan pada tingkat akar rumput Gereja ini tidak serta merta mendorong diadakannya sebuah pembaharuan pada tingkat yang lebih besar dan menyeluruh yaitu lewat konsili ekumenis. Keengganan para Paus untuk mengadakan konsili dibayangi oleh ketakutan munculnya kembali  “konsiliarisme” yang menempatkan konsili ekumenis sebagai otoritas tertinggi di atas kekuasaan Paus. Selain itu, adanya pertikaian - pertikaian politis dan teologis dalam Gereja menyebabkan konsili urung dilaksanakan peperangan yang berlarut - larut antara Prancis melawan Kekaisaran Gereja Roma dan Spanyol. Setelah menghadapi banyak hambatan dan tantangan dalam proses menyiapkan konsili, Paus Paulus III pun mengundang para uskup untuk mengadakan konsili. Konsili dibuka pada tanggal 13 Desember 1545 yang dihadiri oleh 25 Uskup, dan 5 Pemimpim umum Tarekat Religius. Rangkaian sidang
____________________________
19 Firdaus Syam, Pemikiran Politik Barat Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan pengaruhnya Terhadap Dunia Ke-3, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), Hlm. 89-90

berlangsung alot dan harus menempuh 3 kurun periode 1545 - 1547, 1551 - 1552, dan 1562 - 1563. Periode sidang 1545 - 1547 menghasilkan beberapa kesepakatan bersama terkait masalah-masalah dogmatis dan disipliner, ditetapkannya beberapa dekrit tentang Kitab Suci dan tradisi suci, kanon Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, otentisitas Vulgata bukan dalam arti filologis (tiadanya kesalahan-kesalahan terjemahan) tetapi dalam arti dogmatis (tiadanya kesalahan dogmatis), dosa asal (Decretum de peccato oroginali), justifikasi (Decretum de iustificatione), sakramen pada umumnya, baptis dan krisma (Decretum de sacramentalis), kewajiban residensi para uskup dan larangan mengumpulkan harta kekayaan.
Periode sidang 1551 - 1551 menghasilkan ajaran dogmatis tentang Ekaristi, Penitensi, Perminyakan Suci, dekrit disipliner tentang otoritas uskup, tata tertib kehidupan para imam dan pengelolaan harta benda. Periode sidang 1562 - 1563 menghasilkan dekrit - dekrit tentang komuni dua rupa (yang diyatakan tidak perlu dilakukan) dan tentang sifat Kurban Ekaristi, perayaan Ekaristi hanya dalam bahasa Latin, residensi para uskup, yuridiksi para uskup, distingsi antara imamat umum (universal) dan imamat khusus (pelayanan), fungsi hakiki imamat pelayanan, otoritas/yuridiksi/kapasitas untuk mempersembahkan kurban yang otentik, perbedaan hirarki dan awam, pembangunan seminari dan seleksi ketat para calon imam, sinode keuskupan dan regional, kunjungan pastoral, penataan administrasi paroki, dekrit tentang perkawinan, api penyucian, penghormatan para kudus, idulgensi, dan dekrit tentang para religius. Melalui  Bulla Benedictus Deus tertanggal 26 Januari 1564, Pius IV menetapkan berlakunya dekrit - dekrit Konsili. Konsili Trente dan segala keputusannya segera mendapat dukungan luas. Meskipun ada keraguan dan sikap pesimis terhadap hasil konsili, usaha - usaha untuk menyebarkan hasil konsili Trente dan mengimplementasikannya dalam Gereja semakin kuat. Dalam usaha ini, Serikat Yesus (SJ) mempunyai peran besar, dengan menyediakan anggotanya yang mempunyai kualifikasi yang memadai dalam menyebarkan hasil konsili.
Para uskup bersemangat untuk mengadakan pembaharuan di keuskupannya masing -masing. Uskup Carolus Borromeus mempunyai peran penting sebagai model sekaligus acuan pembaharuan dan revitalisasi keuskupan sebagai gereja Lokal. Pembaharuan ini menekankan adanya dasar sakramental dari imamat pelayanan dan mereafirmasi legitimasi hirarki Gereja, sebagai respon atas teologi Protestan yang menekankan imamat semua orang beriman dalam pelayanan. Inti pembaharuan Gereja pasca konsili dalam aspek disipliner adalah cura animarum yang memberi tekanan lebih pada praksis - praksis pelayanan umat dan komitmen berpastoral seperti kunjungan-kunjungan pastoral, sinode keuskupan, seleksi dan formatio yang ketat bagi para imam, dan menolak praksis - praksis amoral seperti konkubinat, perjudian, berburu, dan tindakan amoral lainnya. Namun, dalam perkembangannya konsili Trente seolah - olah menjadi kata terakhir berkaitan dengan ajaran iman dan disiplin. Bahkan, konsili Trente menjadi semacam sebuah “solusi” untuk semua masalah doktrinal dan institusional. Konsili
____________________________

Trente menjadi semacam sebuah ideologi baru yang “memaksa” Gereja Katolik menjadi berwajah sama atau uniformitas. Gerakan pembaruan atau reformasi yang dinamis lamban laun berubah menjadi sebuah gerakan yang kaku dan menjadi sebuah ideologi yang bernama “Tridentinisme”. Tridentinisme tidak lagi hanya keputusan - keputusan konsili Trente, tetapi juga semua ide, konsep, kebiasaan dan cara pikir, mentalitas, realitas institusional, sistem teologi, moral, etika, praktek religius, liturgi, organisasi, dan sentralisasi Roma yang dibangun pasca Konsili Trente.
Semua pengaruh dan kontak antara tradisi ekklesial dengan realitas disaring melalui Konsili Trente. Konsili Trente menjadi sistem ekklesial baru yang bersifat hirarkis dan terpusat. Memang para uskup tetap sebagai pusat Gereja lokal, tetapi dikontrol oleh Gereja Roma. Para uskup diwajibkan untuk menjalankan kunjungan ad limina apostolorum ke Roma setiap lima tahun. Nominasi dan pemilihan para uskup Gereja Lokal ditentukan berdasarkan laporan penilaian para nuntius. Keputusan - keputusan keuskupan, hasil sinode, dan laporan keuangan di bawah kendali Roma. Bahkan, ketaatan para uskup kepada Roma tidak ditentukan dari efektivitas karya pastoral mereka, tetapi berdasarkan penilaian loyalitas mereka pada Konsili.

3. Perkembangan Gereja Pasca Reformasi : di Asia (Termasuk Berakarnya Perkembangan Gereja Indonesia di Provinsi Sumatera Utara)
Awal mula kekristenan Asia, lahir di kota suci tiga agama, yakni Yerusalem. Dari segi geografis kota Yerusalem terletak di wilayah Asia Barat, tetapi dari segi politis merupakan ibukota suatu provinsi kekaisaran Romawi yang berorientasi ke arah Eropa. Dari sinilah Isa Al-Masih mengutus murid-murid-Nya menjadi saksi ke Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.  Masa pertama Gereja di Asia (sampai tahun 1500), menguraikan perluasan kekristenan pertama ke arah Timur, ke wilayah Timur Tengah, India dan sampai ke RRT, bagian barat mengabarkan Injil di Asia (1500-1945), menguraikan sejarah gereja Asia pada zaman misi Gereja Barat. Periode tersebut merupakan periode yang paling kaya dari segi sumber - sumber historis, baik sumber primer maupun buku - buku dan lain – lain. Di Asia kekristenan menghadapi agama - agama dan kebudayaan kuat, yang sulit dimasuki Injil. Kesulitannya menimbulkan beberapa pertikaian, misalnya mengenai isu tentang kasta, upacara menghormati nenek moyang dan lain - lain. Penginjilan diarahkan pada golongaan masyarakat yang dianggap strategis. Berbeda dengan misi katolik, misi Protestan mengutamakan penerjemahan Alkitab sebagai langkah pertama pekabaran Injil. Gereja protestan menekankan Firman Tuhan (sola scriptura), ditambah lagi tersedianya Alkitab dalam bahasa setempat, memungkinkan gereja membentuk teologi kontekstual, tanpa bergantung terus pada hasil penafsiran orang-orang barat.
Tujuan misi Protestan adalah menanam serta mendidik gereja - gereja. Beberapa gereja di Asia,
____________________________
23  Hukum Taurat, berisi 10 perintah Tuhan Allah
24 J.R Hutauruk,  Hlm 24 – 31

terutama di Korea dan Jepang, dengan cepat mencapai kemandirian ekonomi, sedangkan di negara lain gereja tetap bergantung pada dana dari luar. Orang Kristen setempat dipersiapkan dengan tanggung jawab atau kekuasaannya. Perang Dunia II secara tragis menghentikan “masa remaja” gereja Asia, sehingga dipaksa untuk mencapai kemandirian. Nantinya, salah satu program kerja misi Protestan ini  yaitu mendirikan badan penyebaran agama Kristen pertama di wilayah Sumatera. Penyebaran agama kristen ini dilakukan oleh Zending - zending ke Tanah Batak (Tapanuli)  yaitu dimulai dari usaha zending yang dilakukan oleh BMS (Baptist Missionary Society) dari Inggris pada tahun 1824, dengan mengutus missionaris yang bernama Richard Burton dan Nathaniel Ward ke daerah Silindung, Tapanuli Utara. Kehadiran kedua missionaris ini disambut  baik oleh sebagian penduduk Silindung. Burton dan Ward menyebarkan agama Kristen dimulai dengan cerita tentang Kesepuluh Dasa Titah. Penduduk Silindung memahami bahwa isi Dasa Titah itu tidak jauh berbeda dengan tuntutan falsafah hidup Batak dalam patik dan uhum. Namun, kedua missionaris itu tidak didukung oleh sarana dan tenaga yang cukup sehingga kristenisasi di Silindung tidak berkelanjutan. Setelah mundurnya Burton dan Ward misionaris yang datang dari Inggris, pada tahun 1834 Zending American Board Commision for Foreign Ministry (ABCFM) dari Amerika mengutus misionaris yang bernama Henry Lyman dan Samuel Munson. Lyman dan Munson tiba pada 17 Juni 1834 di Pulo Pamarenta, pusat pemerintahan Inggris yang jaraknya tidak jauh dari Sibolga. Selama satu minggu Lyman dan Munson mempersiapkan perjalanan memasuki pedalaman Tanah Batak untuk menyebarkan agama Kristen. Perjalanan mereka cukup panjang untuk bisa memasuki Tanah Batak namun belum sampai di tempat tujuan mereka yaitu daerah Silindung kedua missionaris ini tewas terbunuh di Lobupining.
Berikutnya adalah Zending Ermelo dari Belanda. Zending ini mengutus seorang missionarisnya yaitu Gerrit van Asselt. Dia diutus Ds. Wetteven dari kota Ermello, Belanda, tiba di Sumatera Mei 1856 dan berpos di Sipirok, tahun 1857. Dalam menyebarkan agama Kristen, Van Asselt berhasil membaptis dua orang Batak pada 31 Maret 1861 yaitu Pagar Siregar dengan nama baptis Simon Petrus dan Main Tampubolon yang diberi nama baptis Jakobus Simon Petrus. Simon Petrus adalah putra raja Pamusuk (Kampung) Raja Sutan Doli, dari Bungabondar. Jakobus adalah anak rantau asal Barus. Namun perkembangannya sangat lambat karena kekurangan biaya dan tenaga misionaris, maka zending Ermelo ini kemudian mengirimkan kembali misionarisnya. Badan penyebaran agama Kristen yang paling berpengaruh di Sumatera, terkhusus di wilayah Toba adalah badan perkabaran injil Jerman yang bernama Rheinische Mission Gesselschaft (RMG). RMG menjadi perintis munculnya gereja dengan jemaat yang terbanyak di Asia Tenggara yakni Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), yang bemula dari komunitas - komunitas penyebaran agama Kristen yang dibentuk RMG di tanah Batak pada masa penjajahan Belanda. RMG pula yang memperkenalkan agama Kristen kepada penduduk Simalungun, Dairi, Nias dan berbagai wilayah di sekitarnya. RMG mulai didirikan pada tahun 1828. RMG berpusat di Barmen, Jerman. Daerah misi RMG terutama berada di wilayah Afrika (mulai 1829), Cina (mulai 1846), Kalimantan (1836-1859) dan Sumatera (mulai 1861). RMG dipimpin oleh seorang presiden (Prases) yang bertugas menjalin hubungan dengan perusahaan - perusahaan penyumbang
____________________________
25  J.R Hutauruk, Hlm 42 – 43

dana bagi operasional RMG, dan seorang direktur (Inspektor) yang berlatar theologi dan bertanggung jawab atas misi kristenisasi.
Pada masa pengutusan misionaris ke Toba, yang menjabat sebagai direktur RMG pada saat itu adalah Friederich Fabri (masa jabatan dari 1857- 1884). Sebelum memasuki Toba, misionaris RMG sudah terlebih dahulu melakukan kristenisasi di Kalimantan. Pada masa itu, terjadi Perang Banjar, perang antara pihak kolonial Belanda dengan kerajaan setempat. Pada 1859, ketika perang di Kalimantan meletus, 9 orang misionaris RMG terbunuh. Beberapa misionaris yang masih selamat diamankan ke pulau Jawa. Akibat peristiwa tersebut, Fabri selaku direktur RMG memutuskan untuk pergi ke Amsterdam, Belanda. Fabri hendak mencari kemungkinan adanya daerah misi yang baru bagi para misionarisnya.
RMG kemudian menghubungi pastor Witteven, seorang tokoh dari Zending Ermelo. Zending Ermelo adalah badan penginjilan yang sudah terlebih dahulu memasuki tanah Batak, yaitu di daerah Angkola dan Sipirok mulai 1857. Kristenisasi di tanah Batak, tepatnya di Tapanuli Selatan tersebut, dipimpin oleh Van Asselt, beserta misionaris lainnya yaitu Dammerboer yang menetap di Hutarimbau (Angkola), Van Dalen di Pargarutan (Angkola) dan Betz di Bungabondar (Sipirok). Kristenisasi di Tapanuli Selatan tidak begitu memuaskan bagi misionaris, hal ini disebabkan oleh sebagian besar orang Batak di Tapanuli ini sudah beragama Islam. Setelah beberapa kali perundingan, diputuskanlah bahwa misionaris Zending Ermello yang sedang berada di Sumatera akan dipekerjakan untuk RMG. Mereka akan dibantu oleh misionaris RMG yang sebelumnya berada di Kalimantan, yaitu Karl Klammer, Carl Wilhelm Heine dan Ernst Ludwig Denninger. Perundingan di Belanda tersebut menjadi pintu masuk bagi RMG ke Sumatera. Dalam kristenisasi di Tapanuli Selatan, tercatat hampir 700 orang sudah dikristenkan sampai tahun 1871. Jumlah yang tergolong pesat. Namun setelah itu, tak ada lagi kemajuan jumlah yang signifikan. Sebab, sebagian besar penduduk Tapanuli Selatan sudah memeluk agama Islam.
Sedangkan, Di bagian utara, di tanah Toba, Van Asselt dan Heine mulai mendirikan setasi atau jemaat sending di Aek Sarulla, Pangaloan dan Sigompulon (1863). Mereka juga menjajaki daerah Silindung. Di sana Van Asselt dan Heine disambut baik oleh Raja Pontas Lumbantobing. Tetapi, Van Asselt dan Heine belum berani membuka pos penginjilan di Silindung karena dianggap belum kondusif. Asselt dan Heine mendapat kesan bahwa raja-raja desa di wilayah itu masih suka melakukan perang antar desa. Keadaan di tanah Toba berubah secara signifikan semenjak kedatangan misionaris RMG bernama Ludwig Ingwer Nommensen. Dewasa ini, Nomensen dikenal di kalangan HKBP sebagai orang yang sangat berjasa bagi kemajuan orang Batak Toba. Nommensen lahir pada 6 Februari 1834 di Nordstrand, perbatasan Jerman. Ia diterima di seminari RMG di Barmen pada 1857 - 1861. Setelah tamat, pada Oktober 1861, ia pergi ke Belanda dan belajar bahasa Batak pada Van Der Tuuk. Nommensen melakukan perjalanan pertamanya ke Toba pada 25 Oktober 1862 lewat Padang, Sumatera Barat. Nommensen memulai misinya menyebarkan agama Kristen lewat pelabuhan Sibolga dan Barus hingga ke daerah Tapanuli bagian Utara (Toba). Disana Nommensen disambut baik oleh keresidenan Sibolga, Nommensen diberikan tempat tinggal sementara sebelum melanjutkan perjalanannya ke Tapanuli bagian Utara.
____________________________
26 J.R Hutauruk, Hlm 53 - 60

Namun, pemerintah Belanda (keresidenan Sibolga) melarangnya untuk menetap di Toba. Daerah tersebut di luar batas daerah hukum Belanda, sebab belum dianeksasi (ditaklukkan). Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sumatera pada Desember 1861. Pada 14 Mei 1862, Nommensen tiba di kota Padang. Nommensen melakukan perjalanan pertamanya ke Toba pada 25 Oktober 1862 lewat Padang, Sumatera Barat. Nommensen memulai misinya menyebarkan agama Kristen lewat pelabuhan Sibolga dan Barus hingga ke daerah Tapanuli bagian Utara (Toba). Disana Nommensen disambut baik oleh keresidenan Sibolga, Nommensen diberikan tempat tinggal sementara sebelum melanjutkan perjalanannya ke Tapanuli bagian Utara. Namun, pemerintah Belanda (keresidenan Sibolga) melarangnya untuk menetap di Toba. Daerah tersebut di luar batas daerah hukum Belanda, sebab belum dianeksasi (ditaklukkan). Pada Mei 1864, Nommensen resmi tinggal di Silindung, dengan bantuan Raja Pontas Lumbantobing. Nommensen mendirikan sebuah Huta bernama Huta Dame (Kampung Perdamaian). Di huta tersebut Nommensen dan masyarakat yang bersimpati padanya mendirikan rumah-rumah, sekolah, gereja dan rumah sakit. Huta Dame dihuni oleh orang-orang yang berhasil dikristenkan, yang karena kekristenannya dikucilkan dari kampungnya sendiri. Nommensen, menurut aturan adat, menjadi raja kampung.
Seiring dengan itu, kristenisasi terus berkembang. Kepopuleran Nommensen, Huta Dame dan kristenisasinya menjadi ancaman bagi kekuasaan politik-spiritual dinasti Sisingamangaraja. Sebab, ajaran Kristen bertentangan dengan ketentuan politik dan religi Sisingamangaraja. Pada awal 1878, Nommensen berulang kali meminta agar pemerintah kolonial Belanda melakukan aneksasi terhadap tanah Toba. Pemerintah kolonial Belanda mengabulkannya, sehingga meletuslah perang Toba. Dalam perang ini, penginjil dan kolonial bekerjasama untuk memastikan bahwa orang Batak ”terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa. Dalam kerjasamanya, pemerintah kolonial mengandalkan senjata, sedangkan para penginjil mengandalkan pengetahuan adat-istiadat dan bahasa. Para penginjil berperan sebagai penunjuk arah dan negosiator. Selama aneksasi, ada kampung yang dihancurkan, ada pula yang mencapai kesepakatan damai karena bernegosiasi dengan para penginjil. Aneksasi berakhir dengan tewasnya Sisingamangaraja XII dalam pertempuran di wilayah Dairi pada 1907. Pada 1881, Nommensen diberi gelar Ephorus (overseer, pengawas) oleh RMG. Sebuah gelar tertinggi dalam manajemen RMG di daerah koloni.
Selama aneksasi, Toba mengalami transformasi. Dari kekuasaan politik - spiritual dinasti Sisingamangaraja, menjadi kekuasaan politik - spiritual Belanda - Kristen. Politik dan spiritual menjadi satu paket dalam diri masyarakat Toba pada masa itu, mengingat Toba sudah begitu lama menganut teokrasi Sisingamangaraja, sehingga sulit bagi masyarakat Toba untuk memisahkan keeratan hubungan dunia politik dengan dunia spiritual. Ketika Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918, sudah terdapat lebih dari 180.000 orang yang dibaptis, 510 buah sekolah dengan 32.700 murid, 788 guru injil dan 2.200 penatua. Gereja - gereja yang dibangun, dipimpin oleh pendeta Batak yang telah ditahbiskan. Dengan perubahan yang begitu signifikan ini, Nommensen telah menjadi transformator bagi peradaban manusia di Toba. Masyarakat Toba tumbuh menjadi orang - orang yang beragama dan terdidik.
____________________________
27 Paul Bodholt Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975), Hlm. 61 - 62

4. Pendidikan Theologi  sebagai  Pemicu Masyarakat Penganut Kepercayaan Lain Beralih Kepada Kepercayaan Kristen di Sumatera Utara
Dalam kurun waktu yang tidak lama setelah batakmission oleh keempat missonaris dari zending RMG dan zending Ermello di Tanah Batak (1861), semakin dirasakan meluasnya pekerjaan penyebaran agama Kristen sedangkan jumlah para penginjil masih tergolong sedikit. Keadaan ini disebabkan karena masyarakat di Tanah Batak semakin terbuka menerima agama Kristen dan kurangnya tenaga missonaris dari kalangan zending Eropa, maka mereka memutuskan untuk mendirikan seminari untuk mendidik tenaga – tenaga yang kelak akan menjadi missionaris dari kalangan pribumi yang mampu membantu misionaris dari zending Eropa. Tujuan didirikan seminari di Tanah Batak oleh misonaris yaitu; pertama, melayani orang Batak yang belum menganut agama Kristen agar menjadi Kristen, tujuan pertama ini mula-mula dicapai melalui strategi pendekatan dan pertobatan perorangan; kedua, mengajar orang Batak membaca dan menulis, karena membina secara kerohanian saja tidak mungkin membentuk manusia yang seutuhnya jika manusia itu buta aksara; ketiga, mengajar dalam bidang pengetahuan umum.
Missionaris umumnya membuka seminari sejak awal kegiatan mereka karena sarana pendidikan dipandang sangat efektif untuk menyebarkan agama Kristen. Seminari – seminari yang didirikan oleh missionaris diantaranya; Pertama, Seminari Parausorat (1868 – 1876), Seminari Parausorat ini dikenal sebagai “perguruan theologia” yang pertama dalam sejarah pendidikan teologi HKBP berdiri pada April 1868. Lama belajar dalam seminari ini ditetapkan selama 2 tahun dan diasuh oleh August Schreiber. Angkatan pertama dari seminari Parausorat berjumlah 5 orang siswa. Tentang pendidikan di seminari ini, Schreiber menulis demikian :
“Yang menjadi mata pelajaran pokok dalam pendidikan ini adalah pengetahuan Alkitab dan Katekismus. Sebagai tambahan, kepada mereka diberi pejaran tantang ilmu bumi, sejarah, berhitung, ilmu alam dan bernyanyi. Buku - buku untuk pelajaran itu sama sekali tidak ada, sebab itu saya bersama siswa - siswa menerjemahkan buku sejarah Alkitab yang ditulis Zhan, tokoh pendidikan yang terkenal di Moers. Kerajinan dan kesungguhan para siswa sangat menggembirakan hati saya. Kalau mereka sudah mengikuti pendidikan sealama dua tahun, mereka dapat diangkat sebagai pembantu dalam pekerjaan zending.”
Selain Schreiber pada tahun 1871, dia memiliki seorang rekan kerja misionaris Leipoldt. Angkatan kedua dari seminari ini berjumlah 12 orang. Angkatan ketiga dari seminari ini berjumlah 10 orang. Dengan jumlah 27 siswa selama tiga angkatan, penilaian Schreiber dan Leipoldt sangat positif terhadap siswa - siswanya dan menaruh harapan besar bahwa kelak siswa lulusan seminari ini menjadi pendeta dari kalangan pribumi yang membantu misionaris dalam mengajarkan Agama Kristen. Namun tidak semua lulusan seminari ini menjadi pendeta, ada 2 orang yang meninggalkan tugas mereka dan mencari pekerjaan lain. Tujuan seminari ini adalah dwi-fungsi, yaitu mendidik para siswa menjadi pendeta dalam gereja, yang membantu misionaris dan untuk menjadi guru di sekolah sekolah yang sudah
____________________________
28 Andar Lumbantobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1992), Hlm. 12

berdiri. Sesuai dengan tujuan itu maka kurikulum yang dijalankan di seminari itu, selain pengetahuan teologia, juga meliputi pengetahuan umum. Pengetahuan teologia yang diajarkan, meliputi: (1) Pengetahuan, Tafsiran dan Sejarah Alkitab, (2) Katekismus, (3) Sejarah Gereja.
Proses belajar - mengajar di seminari Parausorat berbahasa Angkola. Siswa yang bukan dari latar belakang bahasa (budaya) Angkola, tetap menggunakan bahasa Batak Angkola. Seminari Parausorat ini mengalami kesulitan dalam hal buku  pelajaran. Kurangnya buku pendukung untuk seminari ini mengharuskan Schreiber dan Leipoldt bekerja keras menerjemahkan isi buku terbitan Eropa dan melengkapinya dengan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan siswa di seminari ini. Sebelum memasuki angkatan ketiga penerimaan siswa di seminari ini, Schreiber harus kembali ke Eropa pada tahun 1873 karena alasan kesehatannya. Setelah kembali ke Eropa, Schreiber tidak pernah lagi kembali ke seminari Parausorat. Selama masa pendidikan angkatan ketiga, seluruh proses pendidikan ditangani oleh Leipoldt. Namun diakhir masa pengajaran angkatan ketiga, Leipoldt juga harus kembali ke Eropa karena kondisi kesehatannya sangat menurun dan tak mengijinkan lagi untuk tinggal lebih lama di Parausorat.
Daerah Tapanuli Selatan yang telah lebih dulu dimasuki Islam, mengakibatkan kurang berminatnya masyarakat menerima pendidikan dari misionaris. Masyarakat lebih memilih memasukkan anak - anaknya ke sekolah - sekolah milik pemerintah kolonial Belanda. Sekolah ini tidak mengajarkan ajaran agama secara khusus, diluar jam sekolah anak - anak mereka tetap dapat memperoleh pendidikan agama Islam. Tidak seperti di seminari yang isi pelajarannya sebagian besar tentang agama Kristen dan setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti ajaran agama Kristen. Alasan lain ditutupnya seminari ini karena tidak ada tenaga pengajar yang menggantikan mereka, serta kristenisasi di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan yang lambat perkembangannya maka seminari ini ditutup. Kedua, Seminari Pansurnapitu (1877 – 1900), pada Juni 1877 atas persetujuan dari RMG secara resmi didirikanlah Seminari Pansurnapitu sebagai tempat pendidikan teologi. Proses belajar - mengajar di seminari ini dibawah bimbingan P.H Johansen dan J.H Meerwaldt. Seminari Pansurnapitu dibuka dengan 15 orang angkatan pertama. Kurikulum yang diajarkan di seminari ini juga tidak berbeda dengan yang diajarkan di Seminari Parausorat. Demi peningkatan mutu dari seminari ini maka pendidikan diperbaharui oleh P.H Johansen. Tidak berbeda dengan Schreiber, Johannsen juga menyisihkan waktu dan tenaganya untuk menterjemahkan buku - buku pelajaran terbitan Eropa ke dalam bahasa Batak.
Nantinya, Masyarakat Tapanuli Utara berlomba - lomba untuk memperoleh pendidikan dan menjadi pendeta yang dianggap sebagai jalan untuk memperoleh hasangapon (kehormatan atau kemuliaan) yang begitu didambakan oleh orang - orang Batak.Penerapan disiplin yang ketat tidak mengurangi minat masyarakat menyekolahkan anak - anak mereka, orang tua tetap antusias menyekolahkan anaknya ke seminari yang semakin hari semakin bertambah hingga memenuhi seluruh ruangan yang dipersiapkan. Alasan masyarakat begitu antusias menyekolahkan anaknya ke seminari yaitu : Pertama, minat dan penghargaan masyarakat akan pendidikan meningkat pesat. Mereka tidak puas kalau anak - anak mereka hanya tamat sekolah dasar, sedangkan satu - satunya sekolah lanjutan pada masa itu hanya seminari ini.
____________________________
29 J.R Hutauruk, hlm. 206

Kedua, masyarakat melihat bahwa pendidikan di seminari ini membuka kesempatan bagi anak - anak mereka untuk menjadi guru ataupun pegawai pemerintah, kedudukan yang menurut mereka jauh lebih terhormat dari sekedar pekerja kasar. Ketiga, masyarakat senang bila anak - anak mereka dididik sepenuhnya oleh zending, karena kepercayaan mereka, terutama yang sudah Kristen, terhadap  misionaris  sangat besar.
Ketiga, Seminari Sipoholon (1901), semenjak dibukanya Seminari Sipoholon, telah banyak membantu masyarakat di Sipoholon dan sekitarnya memperoleh pengetahuan baru. Sebagai lembaga pendidikan, seminari memiliki fasilitas - fasilitas yang mendukung sehingga menarik perhatian masyarakat untuk menuntut ilmu di sini. Seminari yang dipersiapkan untuk menyebarkan ajaran agama Kristen ini tetap mengutamakan pelajaran dengan nuansa religius. Tujuannya untuk menguatkan keyakinan siswa terhadap ajaran agama Kristen. Seminari ini benar - benar dipersiapkan untuk mendidik masyarakat Batak guna mendalami, memahami, dan menerima injil. Para siswa sekaligus akan dipersiapkan sebagai pendeta dan guru sekolah, maka kurikulum seminari ini juga diperkaya, terutama dalam bidang pengetahuan umum, karena mutu guru tamatan dari seminari ini diharapkan mendapat pengakuan yang baik dari pemerintah Belanda.
Maka dari itu, hanya dari pendidikan Theologi yang pada prakteknya mendirikan seminari – seminari di daerah Provinsi Sumatera Utara, masyarakat menjadi tertarik dan berpikir rasional terhadap kepercayaan tradisional yang dianutnya dan perlahan mulai meninggalkan kepercayaan tradisionalnya itu.  Menurut data dari sensus penduduk BPS tahun 2010 (sensus penduduk terbaru secara nasional hingga saat ini) menunjukkan Provinsi Sumatera Utara berada diposisi ke-7 dengan presentase penduduk Kristen tertinggi di Indonesia sebesar 33,27% dari total penduduk keseluruhan Provinsi Sumatera Utara.
Lantas, bagaimana perkembangan gereja – gereja yang asli berasal  dari Provinsi Sumatera Utara ? gereja – gereja di Provinsi Sumatera Utara terus berkembang dengan menjalankan 3 tugas dan panggilan gereja, yakni Koinonia (Bersekutu), Marturia (Kesaksian), dan Diakonia (Pelayanan). Sampai saat ini terdapat ± 15 gereja yang berasal dari Sumatera Utara  terdaftar dalam anggota PGI (Persekutuan Gereja – Gereja Di Indonesia) dari total 89 gereja di Indonesia yang terdaftar. Sampai  saat ini HKBP menjadi gereja asli Provinsi  Sumatera Utara  dengan gerejanya yang tersebar di seluruh daerah Indonesia, Asia, Hingga Amerika.

5. Kesimpulan
Dengan adanya peristiwa Reformasi Gereja, memicu Gereja Katolik Roma untuk memperbaharui sistem internal gerejanya dengan kembali ke ajaran Alkitabiah. Hal ini tidak lepas dari perintis gerakan Reformasi Gereja yaitu Desiderius Erasmus hingga dilanjutkan oleh DR.Martin Luther dengan memakukan 95 dalilnya di pintu Gereja Kastil Wittenberg. Dari hal itulah, gereja – gereja di Asia termasuk Provinsi Sumatera Utara mengalami banyak perkembangan. Perkembangan gereja di Provinsi Sumatera Utara tidak lepas dari campur tangan missionaris RMG (Rheinische Mission Gesselschaft) sebagai
____________________________
30 Sensus Penduduk BPS tahun 2010, www.sp2010.bps.go.id

perintis munculnya gereja dengan jemaat terbanyak di Asia Tenggara yakni Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Tentu, dalam praktiknya mereka mendirikan seminari – seminari di daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai sarana untuk menyebarkan kabar baik kepada masyarakat yang masih menganut kepercayaan lain dan sebagai sarana untuk mencetak masyarakat yang sudah “percaya” nantinya guna menjadi seorang pendeta untuk melanjutkan penginjilan serta perkembangan gereja di daerah Provinsi Sumatera Utara.
-          Daftar Pustaka
Buku :
1.      Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007
2.      Firdaus Syam, Pemikiran Politik Barat Sejarah, Filsafat, Ideologi, dan pengaruhnya Terhadap Dunia Ke-3, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
3.      J.R Hutauruk, Menghargai Dokumen Sejarah Gereja, Medan: Viktor Silaen, 2016.
4.      Paul Bodholt Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975.
5.      Andar Lumbantobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992.
6.      David L. Larsen, The Company of the Preachers: A History of Biblical Preaching from the Old Testament to the Modern Era, AS: Kregel Academic & Professional, 1998.
Internet :
1.      Csl.Edu, Desiderius Erasmus Biography, https://reformation500.csl.edu/bio/desiderius-erasmus/
2.      Desiderius Erasmus: Theological, Political & Economic Ideas Video,  https://study.com/academy/lesson/desiderius-erasmus-theological-political-economic-ideas.html
3.      Wikipedia, Martin Luther, https://en.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther
5.      Tirto.ID, 500 Tahun Setelah Martin Luther Mengkritik Gereja, Tirto.id, https://tirto.id/500-tahun-setelah-martin-luther-mengkritik-gereja-czj9
6.      Oxford Bibliographies, Renaissance and Reformation, https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780195399301/obo-9780195399301-0027.xml
7.      Gereja Anggota PGI, https://pgi.or.id/gereja-anggota-pgi/
8.      Houston Chronicle, Before Martin Luther there was Erasmus https://www.houstonchronicle.com/news/article/Before-Martin-Luther-there-was-Erasmus-a-14570803.php
9.      Encyclopedia Britannica, Erasmus Dutch humanist  https://www.britannica.com/biography/Erasmus-Dutch-humanist
10.  Sensus Penduduk BPS tahun 2010, www.sp2010.bps.go.id


Comments